in

Jabatan Direktur Pemasaran Sudah Tidak Penting? Kok Dihapus?

direktur pemasaran

Sebelumnya fungsi dari jabatan Chief Marketing Officer (CMO) adalah sebagai direktur pemasaran. Dimana bertanggung jawab dalam hal pemasaran. Di era digital, kemungkinan besar jabatan Direktur Pemasaran atau CMO akan melebur dengan divisi teknologi dan juga hubungan masyarakat.

Baca juga: Rupiah Kian Melemah, Berikut Penyebabnya!

Silvia Lagnado (CMO McDonald’s) berhenti dari jabatannya

Chief dari makanan cepat saji McDonalds’, Steve Easterbrook, mengatakan bahwa Lagnado akan berhenti dari jabatannya sebagai CMO atau direktur pemasaran pada Oktober mendatang.

Pada masa Lagnado menjabat sebagai CMO, dia mengawasi bermacam-macam fungsi pemasaran, termasuk pengembangan merek, strategi menu, wawasan konsumen dan bisnis, media, manajemen perdagangan dan hubungan pelanggan. Lagnado merupakan orang berperan penting dibalik kesuksesan McDonalds’ pada tahun 2018 berkat kerjasamanya dengan Disney.

Tidak disebutkan siapa pengganti Lagnado untuk menduduki jabatan direktur pemasaran. Namun, Colin Mitchell dan Bob Rupczynski masing-masing diangkat sebagai VP Senior Pemasaran Global dan VP Senior Teknologi Pemasaran.

Baca juga: Pekerjaan Di Rumah Dengan Gaji Fantastis

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 14 Januari 2020

Perubahan apa yang terjadi?

Faktanya, di era yang serba digital ini semuanya dituntut agar bisa mengimbangi kemajuan teknologi tersebut. Termasuk halnya dengan dunia pemasaran sehingga menuntut adanya re-organisasi perusahaan.

Dikutip dari Tirto.id, tren mulai bergesernya peran CMO tersebut seolah mengindikasikan bahwa peran pemasaran terus mengalami perubahan. Memasuki era teknologi baru, sejumlah variasi cara baru untuk beriklan dan berkomunikasi dengan konsumen bermunculan, salah satunya melalui marketing technology (martech).

Variasi dari martech ini rupanya beragam, mulai dari perangkat lunak yang mempersonalisasikan situs web untuk setiap pengunjung, hingga teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membuat ribuan versi iklan daring yang lebih personal dan sedikit berbeda.

Sebagai tambahan, salah satu pendiri konsultan Metaforce Allen Adamson menuturkan bahwa sebaiknya perusahaan perlu untuk memikirkan ulang jabatan CMO. Adamson menyarankan agar perusahaan dapat membagi tanggung jawab terkait pemasaran.

Baca juga: Deretan 15 BUMN Dengan Laba Terbesar, Siapakah Yang Menduduki Posisi Pertama?

Beragam fungsi jadi satu

Re-organisasi dalam sebuah perusahaan terkait pemasaran bukan berarti mengurangi pemasaran perusahaan. Tapi, ketika perusahaan dan merek menggunakan martech dan transformasi digital yang lebih luas, maka akan semakin mudah untuk mencari dan menyatukan kegiatan teknologi, pemasaran dan juga keinginan pelanggan di bawah satu atap.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 28 Januari 2020

Reorganisasi perusahaan yang kian marak di tingkatan global ini kemungkinan besar akan juga merembet ke Indonesia. Sekali lagi, di era digital ini tidak ada yang tidak mungkin untuk menularkan sebuah sistem baru.

“Profesi CMO tidak hilang, tetapi kompetensinya shifting atau bergeser dan melebur. Memang bisa jadi akan banyak yang berguguran, karena harus mempunyai kolaborasi skill antara teknologi dengan pemasaran,” kata Yuswohady, Managing Partner dari lembaga konsultan pemasaran Inventure.

Untuk itu, peran dari marketing akan tetap ada, meskipun beberapa perusahaan global sudah melakukan perampingan atas jabatan direktur pemasaran (CMO). Perampingan ini dilakukan agar lebih efisien dan percepatan pengambilan keputusan untuk mengantisipasi perubahan perilaku konsumen dan pasar.

Baca juga: Perekonomian Stabil, Kepercayaan Investor Kian Meroket

Tinggalkan Balasan

Ketahui Jenis Kartu Kredit Berdasarkan Zona Berlakunya

Pahami Jenis Kartu Kredit Berdasarkan Limitnya

bahan pertimbangan bisnis

Pertanyaan Penting Sebelum Menjalankan Bisnis Baru