in

Resesi Ekonomi Mulai Menghajar Dunia, Indonesia Harus Apa?

Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi mulai menghantui perekonomian dunia. Tanda-tanda resesi kian mengkhawatirkan. Hal ini dilatarbelakangi potensi guncangan dari ketegangan perdagangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi seiring dengan ancaman pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif tambahan ekspor China dan tarif baru untuk ekspor Uni Eropa.

Baca juga:Mengapa Negara-Negara Ini Membuang Dolar AS?

Adakah dampak yang sudah dirasakan Indonesia?

Adapaun dampak yang bisa dirasakan Indonesia sendiri adalah pada kinerja ekspor yang menurun. Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu memaparkan, dari Januari hingga Agustus 2019 ekspor Indonesia mengalami penurunan. Tercatat turun 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hal ini disebabkan karena adanya adanya pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2019 yang berada pada 3,04% dari PDB (US$ 8,4 miliar) dari 2,6% (US$ 6,9 miliar) pada kuartal I-2019.

“Jika tidak dimitigasi dengan baik, risiko resesi di negara maju dapat memperburuk pertumbuhan PDB Indonesia pada tahun 2021,” terang Febrio, dikutip dari detikFinance.

Baca Juga  5 Langkah untuk Menghindari Kehancuran dalam Masa Resesi Ekonomi

Namun, ia juga menambahkan bahwa jika krisis AS (resesi perekonomian dunia) terjadi dalam waktu dekat. Akan tetap ada jeda waktu hingga dampaknya terasa ke perdagangan Indonesia.

“Di tahun 2009, ekspor Indonesia merosot 15% (yoy) akibat terjadinya krisis keuangan global, sementara pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 4,7%. Tren ini menunjukkan bahwa transmisi guncangan global ke sektor riil domestik tertinggal sekitar enam kuartal dari awal mulanya krisis keuangan di AS pada kuartal II-2008,” jelas Febrio, dikutip dari detikFinance.

Baca juga: Gawat! Hong Kong Sudah Resesi, Apakah Berimbas ke Indonesia?

Apa yang harus dilakukan Indonesia?

The Fed menunjukkan sikap non agresifnya dengan terus menerus menurunkan suku bunga hingga akhir 2019. Diperkirakan pelonggaran The Fed maupun bank sentral lainnya akan terus berlanjut di tahun 2020. Hal ini tentu juga berimbas pada keputusan yang diambil oleh Bank Indonesia.

“Kemungkinan ada ruang untuk pemotongan lebih lanjut sebesar 25 bps oleh BI di tahun 2020 jika rupiah terdepresiasi lebih dalam atau untuk menyesuaikan dengan pergerakan suku bunga Fed,” kata Febrio.

Baca Juga  Korea Selatan Resesi, Sudah Pasti?

“Kami melihat bahwa ketika krisis terjadi, hal itu akan mempengaruhi sistem keuangan Indonesia dengan memicu arus modal keluar yang akan memberikan tekanan besar pada Rupiah. Namun, jika BI dapat memitigasi risiko tersebut, itu akan mendorong modal mengalir kembali ke Indonesia setelah periode turbulensi berakhir,” tambah Febrio, dikutip dari detikfinance.

Baca juga: Resesi Ekonomi, Masih Mungkinkah melakukan Investasi

Tinggalkan Balasan

Keuntungan Trading di Broker GKInvest

Keuntungan Trading di Broker GKInvest

Penerimaan pajak pada mayoritas sektor ekonomi melemah, Sri Mulyani Indrawati

Penerimaan Pajak pada Mayoritas Sektor Ekonomi Melemah