in , ,

Waduh, Rupiah Sudah Tembus Rp15.000 per Dolar AS!

Rupiah Tembus Rp15.000
Photo by EmAji on Pixabay

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terjun bebas pada perdagangan Selasa (17/3). Rupiah sudah tembus Rp15.000 per dolar AS. Aksi jual yang terjadi secara kontinu di pasar finansial global menyebabkan arus modal kabur dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Akibat dari kaburnya arus modal ini adalah rupiah terus tertekanan secara persisten.

Rupiah Tembus Rp15.000

Pada pukul 9:10 WIB, rupiah sudah tembus Rp15.000. Rupiah mengalami pemerosotan sejumlah 0,74 persen ke Rp 15.010/US$ di pasar spot. Level tersebut adalah level terlemah yang dialami rupiah sejak November 2018.

Penyebaran pandemi Corona yang semakin melebar di luar China menjadi pelatuk aksi jual masif di pasar global. Bahkan Wall Street juga ambrol pada perdagangan Senin kemarin. Tiga indeks utama Wall Street jatuh bebas belasan persen, dan menuai rekor penurunan terburuk sejak tragedi “Black Monday” pada tahun 1987.

Emas yang dianggap sebagai safe haven juga tergelincir cukup tajam. Emas tergelincir 5 persen dan sudah sampai di titik terlemah sejak November 2019 pada Senin (16/3) kemarin.

Baca Juga  Alasan Untuk Segera Memulai Bisnis Saat Resesi

Apabila Wall Street yang begitu kokoh mengalami aksi jual, safe haven dan pasar keuangan negara-negara emerging market akan mengalami aksi jual yang lebih dahsyat. Pada perdagangan Senin (16/3) kemarin, Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) jatuh bebas sejumlah 4%. Investor asing juga melakukan aksi jual bersih di pasar reguler sejumlah Rp 457,75 miliar. Pagi ini IHSG dibuka dalam keadaan ambrol lebih dari 2 persen dan berada di titik terburuk sejak Februari 2016.

Pasar obligasi juga mengalami hal yang sama. Yield tenor 10 tahun merangkak naik 10,3 basis poin menjadi 7,423 persen dibanding Senin kemarin. Kenaikan ini adalah kenaikan tertinggi sejak Agustus 2019.

Sebagai tambahan, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Jika yield naik, maka harga obligasi sedang turun. Turunnya harga obligasi adalah indikasi adanya transaksi jual di pasar obligasi. Terjadinya aksi jual di pasar saham dan obligasi menunjukkan terjadinya capital outflow secara kontinu. Hal tersebut menjadi faktor jebloknya rupiah.

Saham pilihan broker

Jangan Panik! Lihat Saham Pilihan Broker Untuk Hari Ini

Trading Bisa di Mana pun Tanpa Khawatir Virus Corona

Trading Bisa di Mana pun Tanpa Khawatir Virus Corona