in , ,

Rupiah Menguat Tipis Setelah Jeblok 11 Persen

rupiah menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis di perdagangan pasar spot pagi ini, Rabu (17/3). Banyak stimulan positif berhasil menopang rupiah dari kemerosotan.

Pada Rabu (18/3), US$1 dihargai Rp15.080 di saat pembukaan pasar spot. Rupiah menguat tipis sejumlah 0,53% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Kemarin rupiah mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebanyak 1,74 persen dan menjadi mata uang paling lemah di lingkup Asia.

Dalam satu bulan terakhir, rupiah sudah mengalami pemerosotan sebanyak 11,06 persen. Dilihat dari data year to date juga mengalami depresiasi yang cukup dalam, yaitu sebanyak 9,22 persen.

Pelemahan rupiah yang cukup dalam ini membuat rupiah menjadi ‘murah’ dan menarik untuk dikoleksi. Lebih lagi Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia untung sebanyak US$ 2,34 miliar pada Februari 2020. Ini menjadi keuntungan tertinggi sejak November 2011.

Surplus neraca perdagangan menunjukkan bahwa ketersediaan vals di perekonomian domestik mengalami peningkatan dan membuat tekanan transaksi berjalan (current account) menurun. Faktor ini bisa menjadi faktor penguatan fundamental rupiah.

Baca Juga  Ekspansi ke Malaysia, ini yang Dialami GoJek

Selain itu, ada kabar baik dari R&I, lembaga pemeringkat asal Jepang. Lembaga ini berhasil meningkatkan peringkat utang Indonesia dari BBB dengan outlook stabil menjadi BBB+ dengan outlook stabil. Indonesia terus menunjukkan taringnya di area layak investasi (investment grade).

Diambil dari keterangan tertulis Bank Indonesia (BI), keputusan peningkatan rating oleh R&I didasari oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah implementasi kebijakan untuk memperkuat potensi pertumbuhan ekonomi yang didukung dengan pondasi politik yang kokoh. Faktor kedua adalah memastikan defisit fiskal tetap terjaga dengan menjada rasio utang pada tingkat rendah. Faktor ketiga adalah cadangan devisa yang cukup terhadap utang jangka pendek. R&I berpendapat bahwa resiliensi ekonomi terhadap faktor eksternal terjaga dengan stance kebijakan yang menekankan stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal.

IHSG terdongkrak

Nilai Bursa RI Berkurang Rp2.108 T Akibat Corona

Bursa saham Asia

Proyeksi Pergerakan IHSG Setelah Ada Stimulus Trump