in , ,

Bursa Asia Terjun Bebas di Perdagangan Pagi Ini

Bursa saham Asia
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Bursa saham Asia bergerak variatif pagi ini, namun banyak nilai saham yang terjun bebas. Penyebab utama dari pergerakan bursa Asia yang fluktuatif ini adalah isu virus Corona. Isu tersebut membuat pelaku pasar masih enggan untuk berkecimpung ke instrumen berisiko di negara berkembang.

Menurut data worldometers, kasus virus Corona sudah terjadi sebanyak 218.997 kasus per Kamis (19/3) pukul 9.54 WIB. Virus ini sudah merenggut 8.953 korban jiwa. Akan tetapi pasien yang sudah sembuh dari virus ininjuga terus meningkat. Jumlah pasien yang sembuh ada 84.795 pasien di seluruh dunia.

Perkembangan Bursa Saham Asia

Berikut adalah perkembangan bursa saham Asia pada perdagangan Kamis (19/3) pagi ini. Beberapa indeks bursa Asia mengalami terjun bebas seperti Korea, Taiwan, dan Malaysia. Pemerosotan paling besar dialami oleh KOSPI Korea sebanyak 4,69 persen. Pun dengan nilai Weighted Index Taiwan yang jatuh bebas sebanyak 3,21 persen. Malaysia juga tergelincir cukup dalam dengan nilai pemerosotan sebanyak 1,03 persen.

Di sisi lain, ada beberapa indeks saham negara Asia yang mengalami penguatan.  Negara tersebut adalah China, Hong Kong, Singapura, dan Jepang. SSE Composite China dan hang Seng Hong Kong mengalami penguatan tipis masing-masing sebanyak 0,09 persen dan 0,11 persen. Selanjutnya disusul oleh Straits Time Singapura yang mengalami penguatan sebanyak 0,45 persen. Penguatan paling besar dialami oleh Topix Index Jepang. Bursa saham Negeri Matahari Terbit ini menguat sebanyak 2,04 persen.

Baca Juga  Perusahaan China Didepak AS di Wall Street

Pada dini hari waktu Indonesia tadi, Wall Street ditutup dalam keadaan ambyar di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) mengalami pemerosotan paling tajam. DJIA terjun bebas sebanyak 6,3 persen. Selanjutnya disusul oleh S&P 500 dengan pemangkasan sebanyak 5,18 persen. Penurunan paling ‘kecil’ dialami oleh Nasdaq Composite dengan pemerosotan sebanyak 4,7 persen.

Hal ini membuat DJIA sudah mengalami pemerosotan yang cukup tajam secara year to date, yaitu sebanyak 30,27 persen. Dengan periode yang sama S&P 500 ambrol sebanyak 25,52 persen dan Nasdaq Composite mengalami depresiasi sebanyak 22,69 persen.

IHSG terdongkrak

Baru Dibuka, IHSG Ambrol 3 Persen

Rupiah Anjlok Akibat Harga Minyak Dunia Minus

Efek Corona, Indonesia Terancam Resesi