in , ,

Efek Corona, Indonesia Terancam Resesi

Rupiah Anjlok Akibat Harga Minyak Dunia Minus
Picture by Geralt on Pixabay

Penyebaran virus Corona semakin merajalela di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pasien yang positif terinfeksi virus Corona itu sudah tembus 227 orang. Jumlah pasien meninggal juga cukup banyak yaitu 19 orang pada Rabu (18/3). Hal ini makin membuat masyrakat khawatir. Terlebih dengan macetnya putaran roda ekonomi, kekhawatiran akan terjadinya resesi di Indonesia makin besar. Banyak pelaku usaha mikro kecil menengah mengalami penderitaan akibat virus Corona ini.

Banyak sekali kedai makanan yang menjadi sepi pengunjung. Pun dengan pusat perbelanjaan yang makin sepi dalam beberapa hari terakhir ini. Padahal banyak sekali pelaku UMKM di kedau tempat tersebut.

Ancaman Resesi di Indonesia

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan ancaman krisis ekonomi di Indonesia bukan sudah makin nyata. Hal ini bisa terjadi jika pemerintah tak mampu meredam penyebaran virus Corona sampai kuartal III 2020. Ekonomi domestik diproyeksikan akan minus pada akhir 2020 atau awal tahun 2021.

Baca Juga  Rupiah Kembali Merosot di Hadapan Dolar AS

Masalahnya, penurunan daya beli masyarakat akan menyebabkan tingkat konsumsi rumah tangga mengalami penurunan. Padahal, konsumsi rumah tangga saat ini masih menjadi faktor utama dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) terbesar.

Menurut data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62 persen untuk ekonomi Indonesia tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sangat bergantung dengan jumlah konsumsi pada masyarakat. Setelah itukomponen investasi serta ekspor dan impor menjadi penyumbang terbesar lainnya.

Eko menuturkan bahwa terjadinya resesi adalah skenario terburuk jika krisis ini tidak dpat teratasi dalam tiga triwulan. Menurut Eko, ekonomi Indonesia sudah bisa disebut dalam keadaan resesi. Masalahnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mengalami pelambatan sejak tahun lalu.

Resesi memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Namun menurut Indef resesi adalah pelambatan laju ekonomi selama dua kuartal berturut-turut. Akan tetapi ada juga yang beranggapan bahwa resesi terjadi jika ekonomi dalam keadaan minus.

Eko menambahkan, untuk bisa meningkatkan kembali daya beli masyarakat, virus Corona harus segera ditangani. Pemberian insentif dianggap kurang tepat jika virus Corona masih merajalela. Jika jumlah orang yang terinfeksi semakin sedikit, otomatis banyak orang yang akan berani untuk keluar rumah lagi. Hal ini akan menyebabkan pasar, pusat perdagangan, dan mall akan ramai oleh pengunjung. Eko menambahkan ketika semuanya normal kembali, pemberian insentif bisa diberikan lagi untuk mendongkrak perekonomian.

Baca Juga  Nilai Impor China Merosot Drastis Karena Corona
Bursa saham Asia

Bursa Asia Terjun Bebas di Perdagangan Pagi Ini

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 19 Maret 2020