in

IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global Merosot

Proyeksi Ekonomi
Picture by stevepb on Pixabay

Menteri Keuangan Sri Mulyani berkata bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) proyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2020 akan mengalami pemerosotan. Pemerosotan tersebut terjadi karena adanya tekanan akibat pandemi Corona yang masih tak kunjung usai. Akan tetapi IMF juga proyeksikan ekonomi global akan lebih sahat pada tahun 2020.

Menurut data yang dilansir dari worldometers, per Rabu (25/3) pukul 9.37 WIB, sudah terjadi kasus Corona di seluruh dunia sebanyak 422.614 kasus. Virus ini sudah menimbulkan 18.892 korban jiwa dari berbagai penjuru dunia. Di Indonesia sendiri sudah terjadi 686 kasus virus Corona. Jumlah korban jiwa di Indonesia juga cukup banyak, yaitu sebanyak 55 korban jiwa. Jumlah pasien yang sembuh di Indonesia sudah mencapai 30 pasien.

Sri Mulyani juga menyatakan bahwa menurut Managing Director IMF proyeksikan pertumbuhan ekonomi dipastikan akan negatif.  Hal ini berati akan ada kontraksi yang jauh lebih rendah daripada yang dibayangkan.

IMF juga menyatakan bahwa situasi yang terjadi karena Corona ini dinilai sama atau bahkan lebih buruk daripada krisis 2008. Oleh karena itu IMF sudah menyiapkan beberapa strategi. Salah satu dari strategi tersebut adalah adanya pendanaan sebanyak US$1 triliun. Selain itu IMG juga ingin menambahkan dana sebanyak US$500 miliar untuk memfasilitasi swap semua anggota IMF.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 18 Maret 2020

Sri Mulyani juga mengucapkan dengan adanya tambahan dana sejumlah US$500 miliar dari US$1 triliun tersebut IMF berharap banyak negara yang bisa terbantu. Hal ini dilakukan untuk menghadapi capital outflow dan situasi likuiditas yang cukup ketat.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga sudah menggelontorkan dana sebanyak Rp105,1 triliun secara neto pada Kamis (19/3) kemarin. Jumlah tersebut dialokasikan untuk SBN sebesar Rp92,8 triliun dan saham Rp8,3 triliun.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa banyak capital outflow yang terjadi di bulan Maret. hal ini dikarenakan adanya penyebaran virus Corona yang makin meluas di seluruh dunia.

IHSG diprediksi melemah

OJK Memotong Jam Perdagangan Selama Masa Darurat

IHSG Meroket

Wall Street dan Bursa Saham Asia Menghijau