in

Dolar Singapura Makin Menguat Melawan Rupiah

dolar singapura
Picture by Idyshah on Pixabay

Nilai tukar dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah. Kenaikan ini menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penyebab utama dari kenaikan ini adalah imbas dari pandemi Corona (COVID-19). Hal itu menyebabkan capital outflow (arus modal asing keluar) semakin sering terjadi.

Nilai tukar dolar Singapura sempat menguat 0,37 persen dan bertengger di level Rp11.506,32/SG$. Hal ini adalah penguatan terbesar sepanjang sejarah. Padahal pada awal pekan lalu dolar Singapura mengalami penguatan yang melebihi Rp10.000.

Pada hari ini, Rabu (1/4) per pukul 9.10 WIB, dolar Singapura mengalami penurunan dan bertengger di level Rp11.460,67.

Efek dari pandemi Corona ini masih menjadi sentimen negatif di pasar keuangan RI. Hal ini terus memicu adanya aksi jual dan terjadinya capital outflow. Karena Indonesia adalah negara emerging market, aset-aset dalam negeri dianggap lebih berisiko bagi investor. Apalagi kemungkinan adanya resesi global akibat pandemi Corona.

Menurut data yang dirilis oleh worldometers, per Rabu (1/4) pukul 10.24 WIB, sudah terjadi 858.892 di seluruh dunia. Virus ini sudah menelan korban jiwa sebanyak 42.158. Di sisi lain, jumlah pasien yang sudah sembuh dari virus ini ada sebanyak 178.099. Sedangkan di Indonesia pandemi ini masih terus berkembang. Total kasus di Indonesia ada 1.528 kasus. Jumlah korban jiwa di Indonesia ada 136 orang sedangkan jumlah pasien yang sembuh ada 81 orang.

Baca Juga  Faktor Menguatnya IHSG di Bursa Saham Asia

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), membeberkan data tentang kondisi perekonomian terkini. Data tersebut menunjukkan adanya outflow atau aliran dana asing yang keluar sebanyak Rp145,1 triliun. Ia juga mengatakan bahwa outflow tersebut terdiri dari Rp131,1 triliun di pasar SBN dan Rp9,9 triliun di pasar saham.

Selain itu, aktivitas sektor manufaktur di Indonesia juga makin menurun akibat efek virus Corona. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret ada pada titik 45,3. Hal ini menunjukkan adanya kontraktif karena nilai tersebut di bawah 50. Penurunan ini adalah yang terendah sejak pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

Volatilitas IHSG

Stimulus Jokowi, Berikut Prediksi Pergerakan IHSG

BLT Dana Desa Akan Cair Bulan Ini

Rupiah Ada di Posisi Terburuk di Asia