in

Harga Batu Bara Melorot Akibat Dampak Corona

Harga Batu Bara melorot
Picture by Tyna_Janoch on Pixabay

Pada perdagangan kemarin, harga batu bara kontrak berjangka kompak ditutup dalam keadaan melorot. Hal ini terjadi pada batu bara acuan Australia maupun Indonesia. Walaupun perekonomian China dinyatakan sudah mulai sehat, namun efek dari pandemi Corona ini masih belum reda. Hal ini menyebabkan jumlah permintaan batu bara pun masih lesu.

Pada Selasa (31/3) kemarin, harga batu bara kontrak ICE Newcastle melorot sebanyak 2,61 persen dan bertengger di level US$ 67,1 per ton. Batu bara yang memiliki nilai termal sebesar 6.000 Kcal/kg ini sering sekali diekspor ke negara Jepang dan Korea. Akan tetapi, pada bulan Maret ini, impor kedua negara tersebut sedang tidak sehat karena Corona.

Diambil dari data yang dirilis oleh Refinitiv, impor batu bara Korea Selatan dan Jepang adalah sejumlah 7,8 juta ton dan 13,1 juta ton. Jumlah ini jauh lebih sedikit daripada tahun lalu di periode yang sama. Di waktu itu Korea Selatan melakukan impor batu bara sebanyak 9,7 juta ton dan Jepang 14,9 juta ton.

Baca Juga  Ekonomi China Membaik, Batu Bara Masih KO

Dengan adanya perpindahan musim pada bulan April-Mei, jumlah permintaan juga akan semakin sedikit. Hal ini juga akan menambah faktor pengurangan impor batu bara. Faktor utama yang paling mempengaruhi adalah masih menyebarnya pandemi virus Corona di seluruh dunia. Kedua faktor tersebut menjadi faktor risiko jangka untuk permintaan batu bara.

begitu pula dengan harga batu bara kontrak Indonesia yang memiliki kalori rendah (4.200 Kcal/kg). Harga batu bara tersebut mengalami penurunan sebanyak 3,27 persen dan duduk di titik US$31,5 per ton. Harga ini adalah harga terendah dalam kuartal pertama di tahun 2020 ini.

Penyebab menurunnya harga batu bara ini adalah terjadinya lockdown di negeri Bollywood, India. Dengan adanya lockdown, permintaan listrik di sektor industri menjadi sedikit. Dilansir dari Refinitiv, pada Maret 2020 ini, jumlah impor batu bara ada sebanyak 14,2 juta ton. Padahal di periode yang sama tahun lalu, impor India mencapai nilai 19,4 juta ton.

Saham yang Menguat dan Melemah

Sekarang Surat Utang Dapat Dibeli Di Pasar Perdana

IHSG diramalkan menguat

Analisa Laju IHSG Setelah Suntikan Stimulus Jokowi