in

Efek Corona, Bursa Asia Masih Lesu

Bursa Asia kembali terperosok ke zona merah
Picture by geralt on Pixabay

Bursa saham di Asia Pasifik di perdagangan akhir minggu, Jumat (3/4) sebagian besar masih lesu. Hal ini terjadi akibat adanya keresahan terhadap dampak ekonomi akibat dari pandemi virus Corona yang tak kunjung usai. Selain itu  sektor jasa China mengalami kemerosotan lebih lanjut pada bulan Maret. Hal ini juga menjadi faktor utama penyebab bursa saham Asia menjadi lesu.

Indeks Pembelian Manajer layanan Caixin/Markit berada di posisi 43. Nilai tersebut menyusul rekor terendah di posisi 26,5 pada Februari yang lalu. Angka PMI di bawah 50 mengindikasikan adanya kontraksi. Sedangkan jika angka PMI ada di atas level 50 ekspansi akan terjadi, dikutip dari Reuters.

Keresahan terhadap dampak ekonomi akibat dari pandemi virus Corona telah membuat pasar ekonomi Asia menjadi terbebani. Menurut data yang dirilis oleh worldometers pada Jumat (3/4) pukul 11.09 WIB, jumlah kasus virus Corona di seluruh dunia sudah mencapai 1.015.850 kasus. Jumlah korban jiwa akibat pandemi COVID-19 ini sejumlah 53.216 korban jiwa. Sedangkan untuk pasien yang sudah sembuh dari virus ini ada sebanyak 212.991 pasien.

Baca Juga  IHSG Bergerak Fluktuatif Karena Lockdown Longgar

Saham China bergerak bervariasi pada awal perdagangan hari ini. Shanghai mengalami kemerosotan tipis sebanyak 0,3 persen. Untuk saham komposit Shenzhen sebagian besar berjalan stagnan. Kemelorotan terbesar dialami oleh Indeks Hang Seng Hong Kong yang harus melorot sebanyak 0,69 persen.

Hal yang sama juga terjadi kepada indeks saham negeri matahari Terbit, Jepang. Saham Nikke 225 mengalami peningkatan tipis sebanyak 0,33 persen dan indeks Topix menguat sebanyak 0,61 persen. Pun dengan indeks KOSPI Korea Selatan yang merangkak naik sebanyak 0,48 persen. Di sisi lain saham negeri Kangguru,S&P/ASX 200, harus mengalami kemerosotan sebanyak 0,36 persen.

Saham Wall Street pada hari ini dinilai juga tidak stabil. Indeks Dow Jones Futures dan S&P 500 harus melemah masing-masing 0,8 persen dan 0,76 persen. Penguatan hanya terjadi terhadap Nasdaq Composite yaitu sebanyak 0,6 persen dan duduk manis di posisi 7.584.

dolar singapura

Dolar Singapura Merosot dari Rekor Tertinggi

PDB Indonesia diprediksi meningkat

Pemerintah RI Siap Keluarkan Pandemic Bond