in

Waduh, Emiten Saham Hanya Kuat Sampai Juni

emiten saham
Photo by Pexels on Pixabay

Virus Corona memberikan dampak negatif yang bagi emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan ada kabar bahwa perusahaan hanya bertahan sampai Juni.

Dengan adanya pandemi ini, arus cashflow perusahaan menjadi terganggu. Hal ini dikarenakan pengeluaran menipis sementara biaya operasi masih sama.

Emiten Saham Hanya Kuat Sampai Juni

Dilansir dari CNBCIndonesia, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyatakan bahwa ada 50 lebih perusahaan yang mengalami kesulitan cashflow.

Kemampuan keuangan dari perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan hanya akan kuat hingga Juni 2020.

Wakil Ketua Umum AEI, Bobby Gafar Umar menyatakan bahwa cashflow perusahaan terganggu akibat Corona. Corona juga menjadi penyebab utama terhambatnya perputaran roda ekonomi.

Hal ini membuat banyak sektor usaha yang terkena dampak. Sektor tersebut antara lain adalah pariwisata, penerbangan, ritel, hotel, UMKM, dan lain sebagainya.

Hal ini membuat banyak perusahaan yang harus melakukan langkah-langkah drastis. Bahkan ada beberapa perusahaan yang harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perusahaan juga melakukan banyak hal agar bisnisnya bisa terselamakan di tengah pandemi. Salah satu caranya adalah melakukan negosiasi dengan bank.

Baca Juga  Optimis Corona Mereda, Bursa Global Kembali Hijau

Perusahaan meminta bank untuk memberikan kelonggaran pembayaran, baik pembayaran bunga utang maupun pembayaran pokok.

Bobby juga menyatakan bahwa kondisi yang diakibatkan oleh pandemi ini sangatlah berat. Dampak dari pandemi ini tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi saja, namun juga terhadap aspek sosial.

Dengan adanya pengaruh terhadap kedua aspek tersebut, tingkat risiko yang dirasakan juga makin meningkat.

Bobby berharap usaha yang dilakukan oleh pemerintah mempercepat pemutusan mata rantai Corona. Dengan terputusnya mata rantai, pemulihan ekonomi diharapkan segera terjadi.

Ekonomi Indonesia sudah mengalami penurunan yang cukup tajam. Hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika dilihat dari kuartal I pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan hingga mencapai titik 2,97 persen. padahal, di periode yang sama pada 2019, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh hingga 5,04 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami penurunan. Bahkan, dalam skenario terburuk, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai di titik negatif 0,4 persen.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah harus membantu dunia usaha. Salah satu caranya adalah memberikan likuiditas yang cukup untuk perbankan.

Baca Juga  Harga Emas Global Tidak Stabil Karena Corona. Kenapa?

Dengan adanya likuidasi yang cukup, paket keringanan yang diberikan oleh bank akan bisa segera tersalurkan. Hal ini akan membuat roda pergerakan sektor bisnis berputar kembali.

menabung emas

Menabung Emas Saat Pandemi, Apakah Untung?

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 13 Mei 2020