in

Ronde Baru Perang Dagang Kemungkinan Dimulai

ronde baru perang dagang
Photo by Lucas Sankey on Unsplash

Ronde baru perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mungkin akan segera dimulai. Hal ini dapat dilihat dari sinyal yang diberikan oleh Trump.

Walaupun sudah ada perjanjian dagang fase I, AS dan China belum terlihat kembali berdamai. Donald Trump kembali memberikan ancaman kepada China karena negara tersebut dianggap sebagai sumber COVID-19.

Ronde Baru Perang Dagang AS-China

Dalam twitter, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dagang yang diteken pada Januari lalu tidak sebanding dengan kerugian akibat COVID-19.

Tidak tanggung-tanggung, Trump menyatakan bahwa berurusan dengan China adalah hal dengan risiko yang tinggi.

Walaupun tidak dituliskan secara detail oleh Trump dalam cuitannya, namun Trump terlihat berusaha untuk ‘menjatuhkan’ pamor China.

Trump menekankan bahwa investasi di perusahaan China dianggap kurang baik. Selain itu ada pula tekanan akan pencurian vaksin dan status quo dalam perang dagang.

Dilansir dari CNBCIndonesia, Trump meminta kepada badan dana pensiun untuk berhenti berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang berasal dari China.

Dalam membuat keputusan ini, Trump menyatakan bahwa investasi di perusahaan tersebut akan memberikan ancaman terhadap keamanan nasional negeri Paman Sam tersebut.

Baca Juga  Penormalan Kegiatan Ekonomi Didukung Pengusaha

Trump bahkan akan memberi peringatan berupa sanksi kepada perusahaan yang berasal China. Hal ini berkaitan dengan terjadinya pandemi Corona secara global.

Atas permintaan dari Trump, badan dana pensiun mengurungkan niatnya untuk berinvestasi kepada perusahaan yang berasal dari China.

AS juga memberikan tuduhan lain kepada negeri Tirai Bambu tersebut. China dituduh telah melakukan hacking (peretasan) terhadap AS.

FBI dengan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) sedang melakukan penyeledikan akan peretasan tersebut.

Hal tersebut semakin membuat AS geram dan akan memberikan sanksi tegas kepada China. Sanksi tersebut masih akan diinisiasi legitimasinya.

Sanksi tersebut berupa pembekuan aset, pelarangan perjalanan dan visa, bahkan larangan berinvestasi.

Jika sanksi tersebut disahkan, Trump akan membuat sertifikasi selama 60 hari. Sertifikasi tersebut akan membahas penyelidikan akan data yang dirilis oleh China.

Penyelidikan tersebut akan dilakukan oleh AS dan negara-negara sekutu. PBB dan organisasi terkait juga akan ikut dalam penyelidikan tersebut.

Jika UU sudah disetujui, China diwajibkan untuk menutup wet market (pasar tradisional basah) yang dianggap sebagai sumber dari penyakit tersebut.

Baca Juga  Perang Dagang AS dan China Mungkin Terjadi

Selain itu, China juga diminta untuk melepaskan warga Hong Kong yang menyetujui demokrasi Hong Kong atas China.

Resesi Ekonomi

The Fed: Resesi karena Corona Akan Lama

Cara Aman Tukar Uang Baru untuk Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19

Cara Aman Tukar Uang Baru untuk Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19