in

BUMN Mencari Utang Valas, Berikut Risikonya

BUMN mencari utang valuta asing (Valas) dari luar negeri

Virus corona menginfeksi perekonomian global. Akibatnya perekonomian global ikut terpuruk. Untuk mengatasi masalah tersebut, BUMN mencari utang valuta asing (Valas) dari luar negeri karena likuiditas dana dalam negeri sedang seret.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut pilihan para BUMN mencari utang valas dapat dipahami. Para investor dari AS dan Eropa memang sedang mencari instrumen alternatif. Mereka mengalihkan uangnya ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Penyebabnya, imbal hasil (yield) US Treasury atau surat utang pemerintah AS, yang menjadi acuan global bond, sedang dalam posisi rendah. Di saat yang sama, bank sentral di AS dan Eropa belum berkeinginan memangkas suku bunga ke posisi negatif.

Yang terbaru penerbitan surat utang PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) Tbk alias Inalum. Nilainya US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 27,5 triliun. Induk usaha atau holding BUMN pertambangan itu menawarkan tiga tenor investasi. Untuk jangka waktu lima tahun kuponnya 4,75%, 10 tahun 5,45%, dan 30 tahun 5,8%.

Baca Juga  Dari 8 BUMN, PLN Dapat Suntikan Dana Terbesar di 2020

“Dengan ini terbukti bahwa dunia usaha internasional masih mempercayai perusahaan BUMN yang sekarang terus berbenah demi meningkatkan daya saiingnya serta semakin transparan,” kata Erik dalam keterangan resminya pada 12 Mei lalu dilansir dai Katadata.

Risiko utang valas

Tapi langkah penerbitan obligasi dalam mata uang asing ini bukan tanpa risiko. Nico Demus mengatakan, pinjaman dalam bentuk dolar, artinya beban bunga lebih tinggi. Pendapatan perusahaan yang dalam rupiah harus lebih besar untuk menutup hutang dolar tersebut.

Nah, perusahaan seperti Hutama Karya mungkin akan sulit melakukan hal tersebut. Pasalnya, bisnis konstruksi punya masalah besar yang kerap terjadi, yaitu keterlambatan pembayaran. Hal ini berisiko ke kondisi cashflow perusahaan. “Tapi kalau sampai gagal bayar, kami yakinlah pasti pemerintah akan bantu,” kata Nico Demus.

IPO Indonesia Terbesar di Asia Tenggara

IPO Indonesia Terbesar di Asia Tenggara

Karyawan Paruh Waktu Berhak Atas THR Juga

Karyawan Paruh Waktu Berhak Atas THR Juga