in

Efek Corona, Industri Makanan Minuman Terjun Bebas

Industri Makanan Minuman Terjun Bebas
Photo by nrd on Unsplash

Virus Corona lagi-lagi melukai perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai penjualan industri makanan minuman yang harus terjun bebas.

Pernyataan tersebut bukanlah tanpa alasan. Dilansir dari CNNIndonesia, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman menyatakan bahwa ada penurunan proyeksi pertumbuhan industri ini.

Menurut Lukman, perkiran pertumbuhan industri makanan dan minuman hanya berkisar 4 sampai 5 persen saja.

Padahal sebelumnya, pertumbuhan sektor industri ini diproyeksikan akan mengalami peningkatan hingga sebanyak 7 persen.

Faktor Pembuat Industri Makanan Minuman Terjun Bebas

Menurunnya nilai penjualan industri ini dikrenakan menurunnya konsumsi rumah tangga di tengah pandemi ini.

Nilai konsumsi rumah tangga harus mengalami penurunan hingga sebanyak 2,84 persen pada kuartal I ini secara year on year dibanding pada tahun 2019 di periode yang sama.

Konsumsi rumah tangga adalah salah satu faktor penggerak utama sektor industri makanan dan minuman.

Lukman menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi yang sangat besar, yaitu sekitar 44 persen dari total nilai industri tersebut.

Baca Juga  Apa Penyebab Saham Astra International (ASII) Menurun ?

Lukman menyatakan bahwa jika pandemi ini tidak kunjung selesai, pertumbuhan industri ini hanya akan tumbuh sebanyak 4 persen pada tahun 2020.

Ada beberapa kategori makanan yang mengalami peningkatan penjualan selama pandemi Corona ini. Akan tetapi, jumlah peningkatan itu tidak sebanding dengan penurunan total yang terjadi di industri ini.

Kategori makanan yang mengalami peningkatan antara lain adalah susu, bumbu makanan, dan berbagai jenis tepung.

Peningkatan penjualan ini rata-rata berasal dari penjualan e-commerce atau penjualan online.

Namun, dengan banyaknya penjualan retail dan pasar tradisional yang terhenti karena Pembatasan Sosial Besar Besaran (PSBB), penjualan e-commerce masih belum bisa mendongkrak nilai tersebut.

Menurut Lukman, basis peningkatan e-commerce dinilai masih cukup rendah. Untuk fast moving consumer good, peningkatan hanya terjadi sekitar 1 atau 2 persen saja.

serangan dagang china

Serangan Dagang China Terhadap Australia, Pemicunya?

Cara Menghabiskan THR Lebaran Ala Wanita

Cara Menghabiskan THR Lebaran Ala Wanita