in

Bursa Asia Memiliki Tren Bullish Sebut UBS

Bursa Asia Memiliki Tren Bullish ekonomi 2022 sembuh
Photo by Adeolu Eletu on Unsplash

Saat ini, pasar saham memiliki potensi untuk bullish setelah terkena badai Corona. Pakar ekonom menyatakan bahwa bursa Asia memiliki tren bullish.

Hal ini dikatakan oleh Head of Asset Allocation Asia Pacific (APAC) Chief Investment Office UBS Global Wealth Management, Adrian Zuercher .

Dilansir dari CNBCIndonesia, Zuercher menyatakan bahwa bursa saham Asia memiliki potensi yang cukup besar untuk memiliki tren bullish.

Hal ini dikarenakan pasar saham Asia selain Jepang saat ini sedang overweight.

Sebagai informasi pengertian dari overweight adalah saham yang direkomendasikan oleh analis atau broker diproyeksikan akan meningkat.

Meningkatnya nilai saham tersebut juga melebihi saham lain yang dijadikan patokan,

Zuercher menambahkan bahwa Asia adalah satu-satunya kawasan nyang akan mengalami pertumbuhan pendapatan seara positif pada tahun ini dan tahundepan.

Bahkan, menurutnya pertumbuhan pendapatan di Indonesia bisa mencapai dua digit.

Komentar yang dilancarkan Zuercher ini muncul ketika saham global sedang mengalami reli penguatan.

Reli penguatan ini terjadi karena mulai diangkatnya kebijakan lockdown di berbagai negara di seluruh dunia.

Baca Juga  Di Tengah Pandemi Laba Semen Indonesia (SMGR) Naik 66%

Lockdown yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus Corona sempat membuat ekonomi global menjadi tidak karuan.

Bursa Asia Memiliki Tren Bullish

Menurut data yang telah dirilis oleh Revinitif, pada awal Juni ini indeks MSCI Asia ex-Jepang mengalami peningkatan hingga sebesar 6,07 persen.

Indeks MSCI Asia ex-Jepang sendiri adalah indeks yang menjadi acuan bagi saham region Asia.

Penguatan indeks ini mulai menutup penurunan yang terjadi jika dilihat secara year to date.

Penurunan yang terjadi sejak awal tahun secara year to date terhadap indeks ini adalah sebesar 8 persen.

Hal tersebut sejalan dengan indeks Hang Seng Hong Kong yang berhasil mengalami penguatan sebesar 5,65 persen jika dilihat secara month to date di awal Juni.

Indeks Shanghai Comosute China juga mengalami penguatan sebanyak 2,09 persen selama periode yang disebutkan diatas.

Jika dilihat secara year to date, saham-saham tersebut mengalami penurunan yang cukup tajam.

Hang Seng harus melorot sebanyak 13,94 persen dan Shanghai Composite sebanyak 4,53 persen sejak awal 2020.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 20 Januari 2020
Jam Buka Pasar Trading Forex Sesi Asia

Cara Menghitung Return of Investment (ROI)

wall street lesu

Wall Street Lesu Setelah Muncul Data Pengangguran