in

Harga Obligasi Tertekan Akibat Prediksi Ekonomi RI

harga obligasi tertekan pemulihan ekonomi
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Harga obligasi RI tertekan pada perdagangan kemarin, Selasa (9/6). Salah satu penyebabnya adalah munculnya data prediksi ekonomi yang dirilis Bank Dunia.

Dalam data yang dirilis oleh Bank Dunia ini, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan berjalan stagnan.

Penyebab dari terjadina hal tersebut adalah efek dari belum terselesaikannya pandemi virus Corona di dunia.

Bank Dunia juga memprediksikan bahwa ekonomi dunia akan mengalami resesi pada tahun 2020.

Dari data yang dirilis tersebut, kegiatan ekonomi global akan mengalami pemerosotan hingga sebesar 5,2 persen tahun ini.

Jumlah penurunan tersebut adalah penurunan terbesar sejak terjadinya Perang Dunia II.

Harga Obligasi Tertekan

Dilansir dari CNBCIndonesia, terjadi koreksi terhadap harga Surat Utang Negara (SUN) yang dapat dilihat dari empat benchmark.

Seri SUN tersebut adalah FR0081 dengan tenor 5 tahun, FR0082 dengan tenor 10 tahun, FR0080 dengan tenor 15 tahun, dan FR0083 dengan tenor 20 tahun.

Seri SUN yang mengalami pelemahan pada perdagangan kemarin adalah FR0082 yang memiliki tenor 10 tahun.

Baca Juga  Faktor Menguatnya IHSG di Bursa Saham Asia

Seri acuan tersebut mengalami peningkatan yield sebesar 9,80 basis poin (bps) menjadi senilai 7,207 persen.

Sebagai informasi, besaran 100 bps bisa disamakan dengan 1 persen.

Yield obligasi dan pergerakan harga adalah hal yang bertolak belakang.

Jika yield obligasi mengalami peningkatan, maka harga obligasi akan mengalami penurunan, begitu pula sebaliknya.

Yield digunakan oleh investor sebagai acuan keuntungan jika melakukan investasi di surat utang dibanding mengacu pada harga.

Hal ini dikarenakan yield akan memberikan cerminan akan kupon, risiko, dan tenor dalam satu angka.

Akan tetapi, koreksi yang terjadi di pasar obligasi pemerintah ini tidak tercermin di harga obligasi wajar yang ada,

Sebagai contoh indeks INDOBeX Government Total Return yang dimiliki oleh PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) malah semakin kuat.

Indeks tersebut mengalami penguatan sebesar 0,04 persen atau sebesar 0,12 poin dan bertengger di level 275,73.

Pasar surat utang yang terus melemah juga tidak sejalan dengan pasar valas yang mengalami penguatan di perdagangan kemarin.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 30 Januari 2020

Pada perdagangan kemarin, rupiah berhasil menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) dengan penguatan sebesar 0,07 persen.

Saat ini, US$1 sama dengan Rp13.840 jika dilihat di pasar spot.

Saham UNVR, Salah Satu Blue Chip Terbaik di Indonesia

Saham UNVR, Salah Satu Blue Chip Terbaik di Indonesia

retail tumbuh

Ritel Hanya Tumbuh 3 Persen, Proyeksi Pengusaha