in

New Normal, Pengusaha Tidak Yakin Mal Ramai

Pengusaha Tidak Yakin Mal Ramai
Photo by Michael Weidemann on Unsplash

Pengusaha yang tergabung di Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) tidak yakin mal akan ramai pada saat New Normal.

New Normal di DKI Jakarta akan dimulai pada tanggal 15 Juni yang akan datang.

Salah satu alasan dari ketidakyakinan pengusaha adalah pola konsumen yang sudah mulai berubah.

Saat ini konsumen lebih memilih untuk melakukan pembelian barang secara online untuk menghindari keramaian.

Pengusaha Tidak Yakin Mal Ramai

DIlansir dari CNNIndonesia, Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan menyatakan bahwa pada saat New Normal masyarakat tidak akan berbondong-bondong ke mal.

Stefanus menyatakan bahwa memang banyak orang yang rindu untuk berbelanja di mal, akan tetapi banya pertimbangan yang harus dilakukan.

Pertimbangan lainnya yang dipikirkan oleh masyarakat adalah kondisi ekonomi.

Menurut Stefanus, di saat dimulainya New Normal, daya beli masyrakat belum bisa pulih seperti sedia kala.

Hal ini membuat pembelian barang-barang yang tidak terlalu mendesak diprediksi tidak akan mengalami peningkatan yang signifikan.

Hal tersebut dapat dilihat dari observasi dan komunikasi Stefanus terhadap pengelola mal di Surabaya.

Baca Juga  Bursa Saham Asia Menguat Efek Stimulus Fiskal

Menurutnya pola hidup cuci mata di mal sudah hampir tidak terjadi di Surabaya.

Masyarakat Surabaya sudah mulai menghindari ruang publik jika tidak ada kebutuhan yang sangat mendesak.

Sebagai informasi, semua pusat perbelanjaan di Surabaya masih terus beroperasi selama PSBB Surabaya.

Stefanus menyatakan bahwa jumlah orang yang hanya “jalan-jalan” ke mall suddah mengalami penurunan yang cukup besar.

Walaupun kondisinya terlihat seperti itu, pengusaha mal akan berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kembali pelanggan.

Stefanus juga menegaskan bahwa berbagai mal di DKI Jakarta akan menyediakan fasilitas yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Sistem perbelanjaan dengan cara touchless atau tidak bersentuhan juga direncanakan agar masyarakat tidak khawatir saat berbelanja.

Sistem pemesanan makanan menggunakan teknologi juga tengah dipersiapkan.

Karena kemampuan teknologi yang masih tidak merata, selama masa transisi bantuan akan terus dipersiapkan.

Praktik social distancing juga akan terus diterapkan baik di eskalator maupun di lift.

Cleaning service saat ini juga tidak hanya membersihkan, namun juga memastikan bahwa semua hal sudah disanitasi.

Baca Juga  2 Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Nilai Rupiah Hari ini
retail tumbuh

Ritel Hanya Tumbuh 3 Persen, Proyeksi Pengusaha

rupiah kembali merosot

Rupiah Kembali Merosot di Hadapan Dolar AS