in

Rupiah Kembali Merosot di Hadapan Dolar AS

rupiah kembali merosot
Photo by Mackenzie Marco on Unsplash

Nilai tukar rupiah kembali merosot di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (10/6). Di pembukaan pasar spot, US$1 dibanderol dengan harga Rp13.925.

Rupiah harus mengalami penurunan sebesar 0,61 persen dibanding posisi penutupan pada perdagangan kemarin.

Salah satu penyebab terjadinya penurunan tersebut adalah kecemasan pelaku pasar akan hasil rapat dari Komite Pengambil Kebijakan Bank Sentral AS.

Hasil rapat tersebut akan diumumkan pada Kamis dini hari nanti waktu Indonesia.

Pada perdagangan kemarin, rupiah berhasil menguat di hadapan dolar AS dengan jumlah penguatan sebesar 0,07 persen.

Hal ini membuat penguatan rupiah yang terjadi sejak awal kuartal II tahun 2020 berhasil mencapai titik 15,09 persen.

Padahal, mata uang utama Asia yang lain masih belum bisa mencapai titik yang berhasil diraih oleh rupiah.

Akan tetapi, menguatnya rupiah juga membawa beberapa hal buruk..

Faktor Penyebab Rupiah Kembali Merosot

Potensi menguatnya rupiah membuat banyak investor yang akan mencairkan uangnya untuk memperoleh keuntungan.

Hal ini membuat rupiah sangat rentan untuk terkena aksi profit taking atau ambil untung yang dilakukan oleh investor.

Baca Juga  FishOn, Aplikasi Tempat Pelelangan Ikan Online Pertama di Indonesia

Jika hal ini sampai terjadi, nilai rupiah akan mengalami tekanan dan akan bergerak melemah.

Jika dilihat dari faktor eksternal, penyebab melemahnya rupiah adalah investor global yang masih enggan untuk bermain secara agresif.

Banyak investor global yang enggan bergerak karena masih menunggu hasil rapat yang akan dilakukan oleh The Fed.

Dilansir dari CNBCIndonesia, disinyalir tidak akan ada kejutan soal suku bunga acuan.

Bunga acuan yang ditetapkan The Fed diperkirakan tidak akan berubah di kisaran 0 sampai 0,25 persen.

Akan tetapi, hal yang paling ditunggu oleh investor global adalah proyeksi perekonomian Amerika Serikat yang akan dirilis oleh The Fed.

Dalam proyeksi tersebut akan ditunjukkan pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat pengangguran, dan arah suku bunga acuan.

Proyeksi tersebut terakhir muncul pada bulan Maret lalu di mana pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan akan tumbuh sebesar 1,9 persen.

Tingkat inflasi yang diukur dengan Personal Consumption Expenditure (PCE) ada di tingkat 2 persen. Angka pengangguran adalah 3,8 persen dan median suku bunga acuan adalah 2,6 persen.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 11 Mei 2020

 

Pengusaha Tidak Yakin Mal Ramai

New Normal, Pengusaha Tidak Yakin Mal Ramai

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 10 Juni 2020