in

Kasus Corona Naik, Harga Emas Global Naik

harga emas datar
Gambar oleh flaart dari Pixabay

China dan Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa jumlah kasus virus Corona di negara mereka meningkat. Hal ini membuat harga investasi safe haven seperti emas global ikutan naik.

Per pukul 08.00 tadi, harga emas global di perdagangan pasar spot meningkat sebanyak 0,13 persen. Saat ini harga emas global adalah US$ 1.732,04 per troy ons.

Dilansir dari CNBCIndonesia, ada lonjakan kasus virus Corona di ibu kota China, Beijing.

Kluster yang ada di Beijing adalah kluster pasar makan Xinfadi dengan jumlah lonjakan kasus yang mencapai lusinan.

Hal ini membuat Beijing melakukan aksi tes dengan jumlah yang cukup masif.

Selain itu, Beijing juga memerintahkan agar perusahaan melakukan karantina dan melakukan pengawasan terhadap karyawan yang pergi ke pasar tersebut.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Paman Sam dengan jumlah lonjakan kasus baru yang cukup besar.

Salah satu negara bagian yang mengalami peningkatan selama 4 hari berturut-turut adalah negara bagian Alabama.

Selain itu negara bagian lain seperti Alaska, Arizona, California, Arkansas, Florida, dan lain sebagainya juga mengalami penambahan jumlah kasus COVID-19.

Baca Juga  Pajak Sepeda, Ada Negara yang Sudah Menerapkan, Lho!

Bahkan, negara bagian Louisiana mengalami jumlah peningkatan kasus hingga mencapai 1.200 orang.

Salah satu faktor yang mengakibatkan peningkatan kasus virus Corona di AS adalah banyaknya pertemuan untuk merayakan Memorial Day pada akhir Mei lalu.

Faktor Harga Emas Global Naik

Ancaman gelombang II virus Corona adalah ancaman yang paling mengerikan bagi kondisi ekonomi global karena masih belum adanya vaksin yang efektif bagi publik untuk saat ini.

Hal ini membuat banyak investor yang kembali memilih untuk berinvestasi di investasi safe haven atau investasi dengan tingkat risiko rendah dan membuat harga emas menjadi meningkat.

Faktor lain yang membuat harga emas naik adalah proyeksi yang dilakukan The Fed bahwa ekonomi AS akan mengalami kontraksi sebanyak 6,5 persen.

Penyebab kontraksi tersebut tidak lain adalah tingginya angka inflasi dan tingginya tingkat engangguran di AS.

Suku bunga acuan juga ditahan di 0 persen oleh The Fed hingga tahun 2022 yang akan datang,

Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk memulihkan ekonomi AS, waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Baca Juga  New Normal Sektor Pariwisata, Jangan Terburu-buru!

 

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 15 Juni 2020

Bu Susi tidak ada di Daftar Kabinet

Bisnis Susi Pudjiastuti Hampir Bangkrut Saat Pandemi Covid-19