in

Rupiah, Saham, Obligasi Menguat Efek Morgan Stanley

rupiah saham obligasi menguat ihsg tergelincir
Photo by Chris Liverani on Unsplash

Menurut riset yang dilakukan oleh bank investasi global dari Amerika Serikat (AS), Morgan Stanley, aset-aset yang ada di Indonesia dinaikkan menjadi overweight. Hal ini membuat nilai rupiah, saham, dan obligasi menjadi menguat.

Pengertian dari overweight itu sendiri adalah asset tersebut mengalami tingkat kenaikan yang cukup tajam, melebihi asset lain yang dijadikan acuan.

Dilansir dari CNBCIndonesia, Morgan Stanley menyatakan bahwa selain Indonesia, negara lain yang dinyatakan overweight adalah Yunani, China, Rusia, India, Brasil, dan Singapura.

Negara-negara yang dinilai masih underweight adalah Thailand, Meksiko, dan Arab Saudi.

Selain itu, menurut mereka Indonesia berhasil menawarkan suku bunga riil ketika tertinggi dibandingkan beberaa negara berkembang lainnya.

Salah satu alasan dinaikkannya Indonesia ke overweight adalah menurut mereka ekonomi Indonesia dinilai bias sembuh dari COVID-19 lebih cepat.

Menurut mereka, level pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil tumbuh seperti masa pra Corona pada kuartal I 2020.

Pertumbuhan tersebut dinilai lebih cepat daripada negara Asia lainnya seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Hong Kong.

Baca Juga  Saham Bank Dijual Warren Buffett, Kenapa?

Walaupun nilai rupiah sempat melemah di hadapan dolar AS hingga Rp16.620 per dolar AS, akan tetapi rupiah berangsur-angsur terus mengalami penguatan.

Rupiah, Saham, dan Obligasi Menguat

Hal tersebut sejalan dengan survei reuters yang menunjukkan bahwa nilai rupiah memiliki posisi long (beli) yang lebih tinggi dibandingkan mata uang Asia lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa rupiah dinilai sangat cocok untuk diinvestasikan bagi pelaku pasar.

Untuk pasar saham, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) juga ditutup dalam keadaan menguat dalam perdagangan kemarin, Rabu (17/6) dengan peningkatan sebanyak 0,03 persen.

Saat ini IHSG sedang duduk manis di posisi 4.987,77 dan sudah mendekati level psikologis 5.000.

Faktor yang menyebabkan tingginya volatilitasi IHSG adalah sentiment negatif IMF yang memproyeksikan bahwa ekonomi global akan depresiasi lebih dari perkiraan sebelumnya.

Selain itu, munculnya kembali kasus Corona di Beijing juga membuat pasar saham menjadi bergejolak.

Harga obligasi pemerintah juga mengalami penguatan pada perdagangan kemarin karena tingginya tingkat yield atau hasil ditawarkan.

Baca Juga  Analisa Laju IHSG Setelah Suntikan Stimulus Jokowi

Harga dan yield obligasi bergerak bertolak belakang, di saat harga naik maka yield akan menurun, dan sebaliknya.

Yield lebih sering digunakan oleh investor sebagian acuan karena cerminan dari tenor, kupon, dan risiko.

Seri acuan yang mengalami penguatan pada hari ini adalah FR0081 dengan tenor selama 10 tahun. Yield seri ini turun sebanyak 5,60 bps (basis poin) di 7,184 persen.

impor as distop china ekspor pangan

Larangan Ekspor Pangan India dan Vietnam, Kenapa?

emiten saham melonjak wall street tertekan

Nilai Wall Street Tertahan Karena Saham Migas