in

Pemulihan Ekonomi 2020 Dinilai Sulit

harga obligasi tertekan pemulihan ekonomi
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Banyak ekonom yang beranggapan bahwa pemulihan ekonomi 2020 bisa saja terjadi di semester II 2020. Namun, pemulihan tersebut dinilai sulit.

Memang, ekonomi Indonesia pada saat ini bisa dibilang sedang kurang sehat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebanyak 0,11 persen pada perdagangan minggu kemarin.

Nilai tukar rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) juga mengalami pelemahan sebesar 1,44 persen.

Sentimen negatif banyak beredar di Indonesia dan membuat kondisi pasar menjadi bergejolak.

Sentimen Negatif Pemulihan Ekonomi 2020

Salah satu sentimen tersebut adalah data rilisan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa data perdagangan internasional pada Mei 2020.

Dilansir dari CNBCIndonesia, jumlah nilai ekspor Mei 2020 adalah US$10,53 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa adanya kontraksi sebesar -28,95 persen jika dilihat secara year to year.

Kontraksi tersebut adalah kontraksi terbesar yang dialami Indonesia sejak Februari 2009.

Nilai impor pada bulan Mei juga mengalami penurunan sampai 42,2 persen atau hanya sebanyak US$8,44 miliar. Nilai tersebut juga nilai terendah sejak masa resesi global 2009.

Baca Juga  Harga Garam Anjlog Hingga 50 Persen. Apa Saja Penyebabnya?

Dengan adanya kontraksi dengan nilai yang sangat besar, pemulihan ekonomi pada 2020 dinilai sulit.

Hal ini dikarenakan ekspor memberikan efek yang cukup besar untuk pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yaitu sebesar 17 persen.

Akan tetepi, untuk semester II 2020 potensi tersebut dinilai sudah tidak terlihat lagi.

Jika dilihat dari sisi impor, kontraksi yang besar terjadi pada sektor impor bahan baku atau penolong.

Sektor bahan baku atau penoling harus mengarami penurunan hingga sebesar 43,03 persen secara year to year. Untuk barang modal nilainya merosot sebanyak 40 persen secara year to year.

Untuk Penanaman Modal tetap Bruto (PMTB), nilainya masih mengalami kenaikan sebesar 1,7 persen pada kuartal I 2020.

Namun, dengan merosotnya nilai impor yang cukup tajam, pertumbuhan investasi pada kuartal II 2020 bisa saja tumbuh negatif.

Hal ini jelas memberatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena PMTB memberikan sumbangsih sebesar 30 persen lebih untuk PDB Indonesia.

Angka penjualan ritel Indonesia juga mengalami penurunan hingga sebesar 16,9 persen menurut data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI).

Baca Juga  Ekonomi Pulih, Pemerintah Kudu Bayar Pelebaran Defisit

Sedangkan proyeksi pertumbuhan ritel pada bulan Mei akan negatif dengan nilai 22,9 persen.

Keuntungan ETF

Keuntungan ETF yang Harus Diketahui

Berikut adalah 5 faktor yang mempengaruhi harga emas nilai global

Nilai Emas Global Bisa Tembus US$1.800