in

Bursa Asia Ambrol, Bursa Jepang Paling Akut

pemulihan ekonomi bursa asia ambrol
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (30/6) mayoritas bursa Asia ambrol dan melaju di zona merah. Hal ini terjadi karena berbagai sentimen negatif.

Sentimen negatif yang utama adalah penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang dirilis oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Dalam publikasinya, IMF juga menyatakan bahwa pasar saat ini sangat mudah untuk mengalami penurunan karena fundamental ekonomi sedang dalam kondisi yang tidak baik.

IMF juga menyoroti akan reli yang terjadi di pasar. Pasar ekuitas global terus mengalami reli setelah berada di titik terendahnya pada 23 Maret yang lalu.

Saat ini, sedang terjadi diskoneksi antara kegiatan ekonomi rill dan kondisi pasar. Hal ini bisa menyebabkan harga aset terus merosot atau muncul fenomena bear market rally.

Fenomena bear market rally juga pernah terjadi di krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008.

Faktor lain yang mempengaruhi bursa Asia adalah kondisi Wall Streest Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (26/6) yang lalu.

Baca Juga  Jangan Sampai Keliru! Bedakan Antara Investasi Saham dan Trading Saham (Part 2)

Pada waktu itu, Indeks Dow Jones Industrial Averages (DJIA) merosot hingga mencapai titik 2,84 persen. Hal yang sama juga terjadi kepada S&P 500 dan Nasdaq Composite yang masing-masing terdeprisiasi sebesar 2,42 persen dan 2,59 persen.

Bursa Asia Ambrol

Dilansir dari CNBCIndonesia, kemerosotan yang paling parah terjadi kepada indeks Jepang, Nikkei. Nikkei merosot sebesar 2,30 persen setelah dirilisnya data penjualan ritel bulan Mei oleh pemerintah Jepang.

Dalam data tersebut, penjualan ritel Jepang mengalami penurunan hingga sebanyak 12,3 persen. Padahal dalam prediksi konsensus, nilai ritel Jepang hanya akan merosot sampai 11,6 persen saja.

Indeks Hang Seng Hong Kong juga merosot sebanyak 1,01 persen setelah dirilisnya data ekspor impor Hong Kong pada bulan Mei.

Impor Hong Kong mengalami penurunan sebanyak 12,3 persen. Jumlah ini lebih besar daripada bulan April yaitu 6,7 persen.

Ekspor Hong Kong juga mengalami penurunan hingga 7,4 persen pada bulan Mei. Padahal, ekspor Hong Kong hanya merosot sekitar 3,7 persen pada bulan April.

Baca Juga  Usai Saldo Nasabah Bermasalah, Bank Mandiri Diminta Lakukan ini oleh OJK

Saham STI Singapura juga merasakan hal yang sama dengan tingkat penurunan sebesar 1,05 persen. Indeks KOSPI Korea Selatan juga terjun bebas hingga 1,93 persen.

Indeks SSE China tergelincir sebanyak 0,61 persen. Akan tetapi, penurunan terkecil dirasakan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

IHSG berhasil menjadi juara dengan tingkat pemerosotan sebesar 0,05 persen dan bertengger di posisi 4.869,00.

Ikuti kami di Instagram dan Twitter, gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Trader di Indonesia

Cara Membangkitkan Usaha Pariwisata di Tengah Pandemi

Cara Membangkitkan Usaha Pariwisata di Tengah Pandemi

rapid test lion air

Rapid Test Rp95 Ribu Lion Air, Apa Saja Syaratnya?