in

Pasca Aksi 22 Mei, Rupiah Kembali Melesat 0,28%

5 Hal yang harus diperhatikan sebelum Investasi Mata uang asing

Pasca aksi 22 Mei yang sempat membuat perekonomian Ibu kota tersendat, posisi nilai tukar rupiah kini justru berada di posisi yang kuat. Tercatat sejak Jumat (24/5) pagi kini nilai tukar rupiah per dolar Amerika Serikat (AS), yaitu sebesar Rp 14.440. Hal inipun berarti nilai rupiah melesat 0,28% dibandingkan penutupan di harui Kamis (22/5), yang berada di Rp14.480 per dolar AS.

Dilansir dari cnnindonesia.com, Direktur Utama PT Garuda, Berjangka Ibrahim, mengatakan bahwa penguatan rupiah ini, masih ditopang dengan situasi dalam negeri yang kian kondusif. Terkhusus pasca kerusuhan 21 dan 22 Mei lalu. Investor terlihat masih memborong rupiah sejak kemarin, sehingga isu perang dagang antara AS dan China tidak lagi berpengaruh terhadap keputusan investasi.

“Berakhirnya gelombang demonstrasi yang ricuh kemarin memberikan kepercayaan kepada pasar untuk memborong rupiah sehingga bisa memberikan angin segar,” jelasnya.

Baca juga : Aksi 22 Mei, Perekonomian Ibu Kota Alami Kekacauan

Tenaga rupiah juga makin menguat, pasca indeks dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya. Ini terjadi setelah yield obligasi pemerintah AS, seiring kekhawatiran para investor akan perang dagang denga China. Tercatat, obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun, jatuh ke titik terendah masing-masing dalam 19 dan 17 bulan terakhir.

Baca Juga  Proyeksi IHSG Rebound Nol, Berikut Opsi Saham Hari Ini

Selain itu data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini pun juga terbilang mengecewakan.Tercatat Penjualan rumah baru di AS pada April turun sebesar 0,4%, secara bulanan ke angka 5,19 juta unit, atau turun sebesar 4,4% jika dibanding secara tahunan. Kemudian, indeks manufaktur AS juga terjun ke angka 50,6 pada Mei dari posisi 52,6 pada April lalu.

Terpantau mulai Jum’at pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia memang menguat terhadap dolar AS. Seperti Dolar Hong Kong yang menguat 0,01%, ringgit Malaysia yang menguat 0,03%, peso Filipina menguat 0,06%, dolar Singapura menguat 0,06% dan baht Thailand menguat 0,24%.

Di kawasan Asia, hanya Won Korea Selatan dan yen Jepang yang melemah terhadap dolar AS. Perlemahan kedua nilai tersebu,  yaitu masing-masing sebesar 0,03% dan 0,06%. Dengan kata lain, rupiah menjadi mata uang dengan performa paling baik di Asia pagi ini. Sementara itu, pergerakan mata uang negara maju terbilang bervariasi. Dimana poundsterling Inggris menguat 0,03%, sedangkan dolar Australia melemah 0,02%. Untuk euro juga terpantau tak bergerak melawan dolar AS.

Baca Juga  Bukalapak PHK Ratusan Karyawan, Saham EMTK Anjlok

Baca juga : Ramadhan 2019, BI Prediksi Inflasi di 0,51%

 

Tinggalkan Balasan

Inflasi Ramadhan

Ramadhan 2019, BI Prediksi Inflasi di 0,51%

4 Tips Memaksimalkan Keuntungan Bisnis Pakaian Muslim