in

Narada: Milenesia Cash Fund Siap Menarik 1.000 Investor Milenial

investasi milenesia

Narada Asset Management merilis Narada ‘Milenesia Cash Fund’ yaitu sebuah produk reksadana pasar uang. Narada sendiri membuat target bisa meraih minimal 1.000 nasabah dalam satu bulan melalui produk ini.

Dikutip dari Liputan6, Chief Marketing Officer Narada Asset Management, Anie Puspitasari, mengungkapkan bahwa perusahaannya tidak menargetkan volume untuk produk pasar uang, namun minimal 1.000 investor dalam waktu satu bulan. Anie juga mengimbuhkan bahwa hal itu bisa terjadi dengan cara kerjasama edukasi dengan SGE atau keliling kampus misalnya.

Selain itu, menurut Anie, produk reksadana pasar uang merupakan sebuah produk investasi yang sangat cocok untuk investor pemula, seperti para milenial. Apalagi yang belum pernah melakukan investasi dan merupakan yang paling tepat jika ingin berinvestasi dalam waktu jangka pendek.

Baca juga: Investasi Asing Terus Didongkrak, Lapangan Kerja Indonesia Tetap Lesu

Berapakah uang yang harus dikeluarkan agar bisa berinvestasi?

Produk Milenesia Cash Fund ini tidak memerlukan uang yang sangat besar agar investor bisa mulai berinvestasi. Produk ini bisa dibeli dengan jumlah yang kecil, yaitu Rp 10.000.

Baca Juga  Ketahui 4 Jenis Reksadana ini Sebelum Investasi

“Tidak ada perbedaan return mulai dengan jumlah yang kecil atau besar. Reksa dana pasar uang juga sangat fleksibel dimana dana dapat diambil sewaktu-waktu tanpa ada tenor atau jangka waktu,” ujarnya.

Disamping itu, reksadana pasar uang memiliki tingkat risiko paling rendah dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya. Namun, tetap memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding dengan deposito. Anie juga menambahkan bahwa reksadana pasar uang ini bukan merupakan objek pajak, jadi tidak ada pemotongan biaya.

Baca juga: Investasi Properti Menjanjikan Kebebasan Finansial

Fintech memudahkan transaksi reksadana via online

Rupanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengamati transaksi reksadana via online yang tercatat telah mencapai Rp5 triliun. Prestasi tersebut rupanya hasil dari tingginya penetrasi teknologi di pasar keuangan dalam negeri.

“Dalam kurun waktu 3 tahun, yakni dari 2016 ke 2018, subscription pembelian online naik tinggi. Tiga tahun lalu baru Rp 1 triliun, sekarang transaksi online tembus Rp 5 triliun lebih,” tutur Deputi Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Halim Haryono.

Baca Juga  Bagaimana Indonesia Bisa Bebas dari Middle Income Trap? Begini Penjelasan Sri Mulyani

Karena peningkatan yang tajam ini, OJK mendukung penuh distribusi pemasaran reksadana secara online. “Sekarang dengan dibantu dengan keberadaan financial technology (fintech), jumlah investor reksa dana naik tajam, SID (single investor identification) tercatat mencapai 1,25 juta orang, kenaikan yang signifikan. Jadi, yang bisa menikmati hasil dari pasar modal bukan dari kalangan yang memiliki modal besar saja, namun yang biasa juga bisa” ujarnya.

Baca juga: Sri Mulyani: Milenial, Ikuti Tips Ini Untuk Mengatur Keuangan

Tinggalkan Balasan

bank mandiri

Usai Saldo Nasabah Bermasalah, Bank Mandiri Diminta Lakukan ini oleh OJK

Keuntungan Menggunakan Uang Elektronik

Hal-hal Penting yang Perlu Anda Tahu Tentang Kredit Tanpa Agunan (Part 1)