in

Bali United, Klub Sepak Bola Indonesia Pertama yang Masuk Bursa Efek

Bali United, Klub Sepak Bola Indonesia Pertama yang Masuk Bursa Efek
Bali United, Klub Sepak Bola Indonesia Pertama yang Masuk Bursa Efek

Bali United resmi melepas sahamnya ke publik pada 17 Juni 2019. Klub asal Pulau Bali itu menjadi klub sepak bola Indonesia pertama yang masuk Bursa Efek Indonesia (BEI).

Klub yang menjadi kebanggaan Semeton Dewata, suporter setia mereka, melantai di BEI menggunakan nama PT Bali Bintang Sejahtera. Mereka melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran awal ke investor pada 10-12 Juni 2019. Total ada dua miliar saham yang ditawarkan Bali United kepada publik, atau 33,33%.

Untuk penawaran saham itu, pihak klub memprioritaskan orang-orang yang berdomisili di Pulau Bali. Sebab, tujuan mereka meleps saham memang untuk mendekatkan klub dengan suporter, meski tak menolak investor dari kalangan institusi, maupun ritel.

Dari total saham yang dilepas, manajemen klub Bali United berharap bisa meraup dana senilai 350 miliar rupiah. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk modal menjalankan bisnis klub. Selain itu, uang hasil penjualan saham itu dipakai untuk pengembangan fasilitas, perekrutan pemain dan pelatih, penyelenggaraan acara, pengembangan akademi, hingga ekspansi outlet Bali United Store.

Baca Juga  Potensi Pendapatan Klub-klub Sepak Bola Indonesia

Lini Kegiatan Bisnis Klub

Saat ini, lini kegitan bisnis PT Bali Bintang Sejahtera dibagi menjdi tiga. Mulai dari manajemen klub sepak bola profesional Bali United, sport agency dan kafe atau restoran milik klub.

Aktifitas bisnis pada manajemen klub sepak bola antara lain pengelolaan akademi sepak bola usia muda, penjualan jersey dan merchandise klub. Sementara, untuk bisnis sport agency mereka meliputi penyediaan sponsor, video streaming pertandingan sepak bola, dan pembuatan video iklan sponsor.

Daya Tarik untuk Investor

Salah satu yang bisa diandalkan Bali United dalam menarik minat investor untuk membeli saham mereka tentu pertumbuhan pendapatan klub di musim 2018 lalu. Pendapatan mereka tumbuh hingga 119,42% year-on-year (YoY) atau 115,2 miliar rupiah.

Naiknya pendapatan musim itu dapat tumbuh fantastis karena manajemen klub menaikkan harga tiket hingga hampir 43% menjadi 50 ribu rupiah. Hal itu didukung dengan peningkatan jumlah penonton yang datang ke pertandingan kandang klub yang cukup signifikan.

Tinggalkan Balasan

kementerian periode jokowi

Dilema Dibentuknya Kementerian Baru Ekonomi Digital dan Ekonomi Kreatif

Keuntungan Menggunakan Uang Elektronik

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengguna Kartu Kredit Pemula