in

Mengintip Bisnis Buzzer di Tahun Politik

Buzzer

Menjelang pilkada dan pilpres jumlah akun buzzer dan akun robot semakin banyak bermunculan. Umumnya akun ini menanggapi soal berita politik dengan mengutip sumber berita yang tidak jelas. Tugas akun buzzer ini adalah menggiring opini di media sosial.

Pada masa tahun politik saat ini, akun buzzer bahkan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Bagaimana tidak? Dilansir dari detik.com, para ‘pelaku’ di balik akun buzzer ini bisa memperoleh uang sebesar Rp50-100 juta.

Adapun cara kerja buzzer adalah dengan membuat ribuan akun palsu media sosial. ribuan akun palsu tersebut selanjutnya mereka gunakan untuk menyebar ulang informasi yang ingin digiring.

Diceritakan oleh seorang mantan buzzer, Rahaja Baraha mengatakan bahwa bisnis ini akan semakin menjanjikan seiring dengan berkembangnya media sosial. Karena semakin berkembang media sosial, maka semakin ramai dan butuh issu yang diarahkan.

Masih kata Rahaja, sejatinya akun buzzer bukan hanya digunakan untuk kepentingan politik saja. melainkan juga digunakan oleh perusahaan – perusahaan.

“Perusahaan juga mulai pakai, BUMN-BUMN, sektor publik, pegawai-pegawainya jadi pasukan. Kalau ada isu, ayo bantu komen positif akun kita, itu buzzer nggak? Itu buzzer, bedanya dia pakai akun asli saja, dan ngomonginnya bukan politik. Semua buzzer,” tambahnya, dikutip dari detik.com

Baca Juga  Ini yang Dilakukan OJK untuk Capai Target Inklusi Keuangan 2019

Keahlian yang harus dimiliki buzzer:

Berikut tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh buzzer menurut Co-founder Politicawave,  Ardy Notowidigdo.

Memiliki jaringan yang bagus

Ardy mengatakan, seorang buzzer biasanya memiliki keterampilan. Dia bilang, buzzer biasanya memiliki jaringan yang bagus. Biasanya para buzzers bekerja secara berkelompok. Hal ini untuk memudahkan mereka mengumpulkan informasi-informasi. Semakin luas pertemanannya, luas jaringannya, informasi semakin banyak, pengikutnya kalau dikumpulkan makin banyak

Pandai membuat konten

Kriteria selanjutnya adalah mesti jago membuat konten serta pandai bicara. Lantaran buzzer biasanya merancang isu seolah-olah ramai dibicarakan publik.

Mengerti bidang jurnalistik

Terakhir, buzzer biasanya memiliki pengetahuan di bidang jurnalistik. Sebab, buzzer mesti bisa menangkap isu yang tengah berkembang.

“Terakhir memang harus mempunyai kemampuan produksi konten sama pengetahuan jurnalistik. Karena harus tahu kan, apalagi di politik suka ada terkait trending atau pencitraan satu hal. Ini memerlukan kemampuan jurnalistik yang tidak sembarang orang,” tutur

 

Tinggalkan Balasan

Laris Manis, Ini 4 Tips Jualan Sukses di Market Place

Perhatikan Hal Ini Sebelum Memilih Investasi Asuransi Unit Link