in

Usaha Presiden BJ Habibie Menaikkan Nilai Tukar Rupiah

Usaha Presiden BJ Habibie Menaikkan Nilai Tukar Rupiah
Usaha Presiden BJ Habibie Menaikkan Nilai Tukar Rupiah (C) HARIAN TERBIT

Presiden BJ Habibie dikenal sebagai presiden pertama di era reformasi, pasca-lengsernya Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Presiden ketiga Republik Indonesia itu mewarisi sejuta masalah perekonomian Indonesia yang amburadul, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah.

Pada awal krisis moneter melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, nilai tukar rupiah sempat terjun bebas dari 2.000 rupiah per dolar Amerika Serikat menjadi 12 ribu rupiah per dolar Amerika Serikat. Mau tak mau, pemerintahan BJ Habibie harus memulihkan kondisi ini.

Kondisi melemahnya rupiah itu diperparah dengan jatuh temponya utang luar negeri yang dilakukan pada rezim Presiden Soeharto (alm.). Tak ayal, bunga utang itu membengkak akibat depresiasi (penyusutan) rupiah. Belum lagi, para perbankan swasta yang mengalami kesulitan likuiditas, inflasi yang meroket di atas 50 persen, dan lain-lain.

Pastinya, pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu dituntut mengembalikan kesejahteraan rakyat yang semakin menurun saat krisis moneter melanda. Banyak langkah strategis, terutama di bidang ekonomi yang sudah dilakukannya demi memperbaiki perekonomian Indonesia kala itu. Salah satunya, tentu usaha sang profesor dalam menaikkan nilai tukar rupiah.

Baca Juga  Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 24 Maret 2020

Untuk memulihkan kondisi Ibu Pertiwi yang sedang ‘jatuh’, Presiden BJ Habibie tentu tak bisa melakukannya seorang diri. Karenanya, pada tanggal 22 Mei 1998, ia membentuk kabinet baru yang dinamakannya Kabinet Reformasi Pembangunan. Kabinet BJ Habibie itu terdiri dari 16 orang menteri pilihannya.

Nilai Tukar Rupiah Pada Awal Pemerintahan Presiden BJ Habibie

Selama lima bulan pertama di tahun 1998, jelang lengsernya Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat sifatnya masih fluktuatif.

Selama triwulan pertama (Januari-Maret 1998), nilai tukar rupiah rata-rata mencapai sekitar 9200 rupiah per Dollar Amerika Serikat. Selanjutnya, rupiah kembali menurun menjadi sekitar 8000 rupiah per Dollar Amerika Serikat pada bulan April hingga pertengahan Mei, rupiah cenderung melemah di atas 10.000 rupiah per Dolar Amerika Serikat sejak pekan ketiga di bulan Mei.

Banyak hal yang mempengaruhi kecenderungan melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia sejak bulan Mei 1998 ini. Selain krisis moneter yang melanda ekonomi dunia pada umumnya, hal itu juga dipengaruhi oleh kondisi sosial politik yang bergejolak, utamanya di Ibu Kota Jakarta.

Baca Juga  Pasar Saham AS Terjun Bebas, Rekor Terburuk!

Sinyal Keberhasilan Presiden BJ Habibie

Pertumbuhan ekonomi mulai terlihat positif pada Triwulan I dan II tahun 1999. Hal ini menunjukkan keberhasilan upaya yang dilakukan Presiden BJ Habibie.

Artinya, perekonomian Indonesia mulai mengalami pemulihan. Hal itu bisa dilihat dari nilai tukar rupiah yang menguat hingga 6500 rupiah per Dollar Amerika Serikat pada akhir masa pemerintahnnya.

Namun, bukan berarti saat meninggalkan tampuk kepemimpinannya sebagai presiden, kondisi perekonomian Indonesia saat itu sudah kuat. Presiden BJ Habibie meninggalkan Istana Negara dengan kondisi ekonomi negara yang masih rapuh. Namun, setidaknya sudah lebih baik ketimbang Mei 1998.

Tinggalkan Balasan

BJ Habibie, Presiden Indonesia Ketiga yang Berperan dalam Krisis Ekonomi

Perekonomian Indonesia di Tangan Presiden BJ Habibie

Miliki Jiwa Entrepreneur Seperti Eyang Habibie