in ,

Cashless Society, Ini Saran dari Perencana Keuangan

Cashless Society

Sejalan dengan berkembangnya arus teknologi, transaksi non tunai atau cashless dalam transaksi pembayaran tidak bisa ditolak lagi. Bahkan di Indonesia  penyedia layanan keuangan digital (financial technology/fintech) untuk transaksi pembayaran makin menjamur.

Sebut saja, deretan nama-nama fintech pembayaran mulai dari OVO, GoPay, Dana, Doku, Midtrans, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan, LinkAja yang merupakan perusahaan patungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penyedia layanan keuangan digital juga muncul.

Secara umum, mereka memberikan layanan dompet digital atau digital wallet. Dompet digital ini memungkinkan penggunanya untuk menyimpan uang di aplikasi, kemudian memanfaatkannya untuk transaksi pembayaran di merchant offlinemaupun online.

Saran Perencana Keuangan

Dilansir dari CNNIndonesia.com Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan prinsip transaksi pada layanan keuangan digital serupa dengan rekening bank. Hanya saja, pengguna bisa bertransaksi lewat aplikasi, sehingga lebih efisien.

Namun demikian, bukan berarti penggunanya bisa mengabaikan pengelolaan keuangan. Agar tidak terlena dengan penggunaan transaksi digital, ia menyarankan agar isi saldo pada dompet digital disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Baca Juga  GoPay Mendominasi Posisi e-Wallet Indonesia

Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan iming-iming pengembalian uang atau cashback. Tak dipungkiri lagi, untuk menarik minat penggunanya beberapa dompet digital memberikan cashback dalam nominal yang menggiurkan.

Sebut saja OVO. Mereka menawarkan cashback hingga 60 persen untuk beberapa transaksi di merchant saat tanggal penerimaan gaji. Tak jauh berbeda, GoPay. Mereka juga menawarkan program Pay Day yang menawarkan cashback hingga 50 persen saat gajian.

Di luar tanggal penerimaan gaji, keduanya, OVO dan GoPay juga berlomba-lomba menawarkan cashback kepada konsumen.

Alih-alih membantu pengguna makin efisien dalam mengelola uang, iming-iming cashback tersebut justru membuat pengguna semakin konsumtif. Oleh sebab itu, ia mengimbau pengguna dompet digital untuk bertransaksi sesuai kebutuhan.

Bukan hanya Safir senduk, perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Asad mengatakan masyarakat saat ini masih terlena dengan euforia cashless, lantaran ini merupakan inovasi di bidang keuangan. Ia menekankan agar masyarakat tetap mendahulukan investasi dan tabungan.

“Selalu tertib setiap bulan untuk investasi atau nabung dahulu. Misalnya gajian sebaiknya langsung dicicil untuk tabungan dan investasi, dan membayar kewajiban,” katanya.

Baca Juga  Potensi Pendapatan Klub-klub Sepak Bola Indonesia

Baca juga: Siapkah Indonesia Menuju Cashless Society?

Tinggalkan Balasan

FM Indonesia Roadshow Surabaya 2019

Move on ke Cashless? Pelajari dulu Kelebihan Kekurangannya

Move on ke Cashless? Pelajari dulu Kelebihan Kekurangannya