in

Upaya Arema FC Bangkitkan Finansial Klub Saat Pandemi Covid-19

Upaya Arema FC Bangkitkan Finansial Klub Saat Pandemi Covid-19
General Manager Arema FC, Ruddy Widodo (C) AKAIBARA

Efek negatif dirasakan semua sektor bisnis dan industri di tengah pandemi covid-19, tak terkecuali industri sepak bola di Indonesia. Sejumlah klub harus memutar otak untuk menyelamatkan finansial masing-masing. Lalu apa upaya Arema FC bangkitkan finansial klub?

Ada manajemen sejumlah klub sepak bola peserta Liga 1 2020 yang mem-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) karyawannya lantaran tak sanggup memenuhi gaji bulanan mereka. Langkah tersebut tentu untuk mengurangi pengeluaran demi menyehatkan finansial klub. Namun, General Manager Arema, Ruddy Widodo menegaskan pihaknya tak melakukan hal tersebut.

Di tengah vakumnya kompetisi Liga 1 2020, jelas manajemen klub kehilangan pemasukan dari sektor ticketing laga kandang. Penjualan merchandise melalui toko resmi klub juga sempat terhenti lantaran ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di Kota Malang. Mereka cuma melayani penjualan online, meski hasilnya tak maksimal.

Pemasukan dari sponsor yang dibayarkan secara termin pun terhenti sementara, mengingat kompetisi tak berjalan. Seperti diketahui, pihak sponsor tentu butuh timbal balik dari dana yang mereka kucurkan, yang salah satunya dengan membuka booth penjualan ketika laga kandang digelar. Jika kompetisi terhenti, maka otomatis peluang sponsor menjual produknya kepada suporter Arema, Aremania, sebagai pangsa pasar, menghilang.

Sementara itu, pengeluaran bulanan tetap membebani klub, seperti menggaji pelatih, pemain, offisial tim, dan karyawan kantor. Beruntung, PSSI menetapkan besaran gaji pelatih dan pemain klub peserta Liga 1 2020 dibayarkan 25 pesen saja, dan berlaku April-Juni. Juli dan seterusnya? Ini yang masih menjadi tanda tanya.

Dana komersil dari PT Liga Indonesia Baru sebagai operator kompetisi pun sudah dikucurkan, meski hanya mampu dipakai Arema untuk memenuhi gaji bulan Mei. Untuk gaji bulan sebelumnya, Maret dan April, bahkan jajaran direksi Arema kabarnya sampai harus menggadaikan surat-surat mobil. Besaran total gaji pelatih dan pemain Arema dalam sebulan ditaksir mencapai Rp800 juta.

Baca Juga  Manfaatkan Fitur Peminjaman Online di Pede (Ponsel Duit)

Upaya Arema FC Pastikan Sponsor Utama Bertahan

Ruddy Widodo blak-blakan mengaku jika secara bisnis, saat ini Arema tengah defisit. Upaya pertama yang dilakukan manajemen Arema FC untuk menyelamatkan keuangan klub adalah memastikan sponsor utama bertahan.

Arema saat ini disokong oleh tiga sponsor utama yang menempel di jersey yang mereka kenakan saat bertanding. Ada produk minuman berenergi Kratingdaeng, produk mie instan Indomie, dan perusahaan investasi luar negeri, Joseph Revo Investment Inc (JRII).

Manajer berkaca mata itu mengaku beruntung Arema tepat memilih sponsor. Sebab, Indomie dan Kratindaeng, dua dari tiga sponsor Arema merupakan produsen makanan dan minuman konsumsi. Ruddy menyebut, produsen makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang bisa dibilang mengalami peningkatan omset penjualan selama pandemi ini.

“Upaya pertama yang kami lakukan bagaimana membuat sponsor utama kami tidak cabut. Sebab, ada sejumlah kawan dari klub lain yang sempat curhat, mereka sudah ditinggal sponsornya. Ini langkah penting yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan finansial,” kata Ruddy.

Arema Mencari Pengganti Hilangnya Pendapatan dari Tiket

Ruddy Widodo menjelaskan langkah selanjutnya adalah mencari pengganti hilangnya pendapatan dari tiket laga kandang Arema. Langkah ini harus mereka lakukan jika Liga 1 2020 benar-benar dilanjutkan dengan tanpa penonton.

Menurutnya, sektor ticketing menjadi pendapatan klub paling besar tiap musimnya. Dengan vakumnya kompetisi sejak Maret, bisa dibayangkan berapa income yang hilang. Celakanya, ada wacana kompetisi dilanjutkan kembali September mendatang dengan tanpa penonton. Alasannya tentu demi memenuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran covid-19. Tentu, akan semakin banyak pundi pemasukan Arema yang hilang.

Baca Juga  Mengubah Target Keuangan di Tengah Pandemi Corona

Ada satu upaya yang disarankan Ruddy dan akan dibicarakan dengan Manager Bisnis dan Marketing Arema, Yusrinal Fitriandi. Pihak klub bakal menggandeng kafe, atau tempat-tempat yang biasa didatangi Aremania untuk nonton bareng (nobar) pertandingan Arema melalui layar televisi. Nama atau brand mereka bisa terpajang di a-board (advertorial board) alias papan iklan berjalan di laga kandang Arema.

Sebagai timbal balik, misalkan tiap porsi makanan arau minuman yang terjual dalam acara nobar laga Arema itu beberapa persennya untuk Arema. Bisa juga dengan jalan meniketkan acara nobar tersebut, di mana juga ada sistem bagi hasil untuk pihak Arema.

“Kami akan berembuk, andaikan September nanti kompetisi ini dilanjutkan tanpa penonton seperti apa. Yang jelas, kami harus mengganti income yang hilang dari sektor ticketing. Memang tidak bisa maksimal, karena nilainya signifikan. Ini menjadi tugas dari Divisi Bisnis dan Marketing, butuh kreativitas dari mereka untuk mendatangkan sponsor baru,” imbuhnya.

Mengintip Celah Promosi Calon Sponsor Anyar

Ruddy Widodo punya tugas maha penting bagi Divisi Bisnis dan Marketing Arema untuk mengintip celah promosi calon sponsor anyar. Menurutnya, di tengah pandemi saat ini, masih ada saja perusahaan yang melakukan promosi, sekalipun tengah menurun income-nya.

Baru disadarinya jika di tengah pandemi ini, masih ada perusahaan yang berusaha menarik minat konsumen dengan berpromosi. Celah inilah yang menurutnya harus dimanfaatkan oleh Divisi Bisnis dan Marketing Arema untuk mendatangkan income tambahan.

Baca Juga  Plus Minus Sistem Pembayaran Kredit

Menurut manajer asal Madiun itu, ada filosofi sebuah perusahaan akan selalu melakukan promosi. Kalau tidak berpromosi, berarti perusahaan itu mati. Bahkan, perusahaan yang income-nya tengah jatuh pun akan tetap melakukan promosi untuk menggenjot omset pemasaran produknya.

“Ini musim recovery ekonomi, saya pikir di semua bidang. Dalam hal ini, saya lihat Indonesia ini bagus, bahkan rupiah kuatnya seperti itu. Di hadapan dollar Amerika Serikat tetap tahan gempuran. Kebetulan istri saya juga kerja di sektor perdagangan. ISHG (Indeks Harga Saham Gabungan) sudah hijau karena investasi, makanya tak heran jika ada perusahaan yang berpromosi,” sambungnya.

Arema Masih Punya Daya Tarik di Mata Publik

Ruddy Widodo menegaskan tak pernah khawatir, karena tidak mungkin Arema tak didekati sponsor. Sebab, menurutnya Arema masih dan akan selalu punya daya tarik di mata publik.

Menurut pria berusia 48 tahun itu, nama Arema masih sangat menjual. Arema itu berangkat dari sebuah kultur. Memang, Arema murni klub swasta, tapi memiliki nama besar yang tak kalah dari klub-klub plat merah yang melegenda seperti Persebaya Surabaya, Persib Bandung, dan Persija Jakarta.

“Arek (orang) Malang pasti disebut Arema, bahkan jenis usaha di luar Malang pun pakai nama Arema. Seperti bakso, tambal ban, bengkel, dan lain-lain pakai nama Arema. Ini kelebihan Arema. Belum pernah saya temui Peuyeum Persib, Lontong Balap Persebaya, Kerak Telor Persija,” tandasnya.

Moving Average sebagai Indikator dalam Trading Saham

Kelemahan Analisa Fundamental Bagi Investor Ritel

pertumbuhan ekonomi Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1,9 Persen, Ramal BI