in

Potensi Pendapatan Klub-klub Sepak Bola Indonesia

Potensi Pendapatan Klub-klub Sepak Bola Indonesia
Potensi Pendapatan Klub-klub Sepak Bola Indonesia (C) INDOSPORT

Memang, industri sepak bola di Indonesia masih jauh dari kata menguntungkan jika dibandingkan dengan industri sepak bola di Eropa sana. Namun, bukan berarti tak ada potensi pendapatan klub-klub sepak bola Indonesia jika dapat dimaksimalkan.

Industri sepak bola di Eropa terbilang maju karena ada keseriusan orang-orang di dalamnya untuk mengembangkannya. Hal itu juga didukung dengan adanya perputaran uang yang tak sedikit dari para investor, tak cuma dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Perputaran uang itu yang kemudian membuat klub-klub sepak bola Eropa berlomba-lomba menggali potensi pendapatan mereka dari sana.

Sebisa mungkin, pendapatan itu dihadirkan di awal musim, sebagai modal mengarungi kompetisi. Uang itu nantinya juga akan dibelanjakan untuk mengontrak pemain baru, menggaji pelatih dan pemain yang kian hari kian mahal, biaya operasional untuk laga tandang, dan lain-lain yang tak kalah besar.

Terlalu jauh rasanya jika klub-klub sepak bola Indonesia ingin mencontoh upaya klub-klub Eropa dalam menggali potensi pendapatan mereka. Dulu, kendalanya mungkin pola pikir bos-bos klub di Indonesia yang masih ingin terus ‘menyusu’ APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Apalagi, ketika asupan tersebut dapat dirupakan melalui pos-pos ‘akal-akalan’ yang dilegalkan.

Dewasa ini, PSSI sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia melarang tegas klub-klub profesional yang berkompetisi di level atas menggunakan dana APBD. Sayangnya, masih ada bagi-bagi ‘kue’ berupa subsidi dari operator liga untuk para klub kontestan dalam bertahan hidup selama semusim.

Jika klub-klub sepak bola yang berkompetisi di level tertinggi itu tak mau hanya mengandalkan pemasukannya dari subsidi, tentu harus mencari asupan dana lain. Dari mana? Setidaknya ada tiga sumber uang pokok paling penting yang harus bisa dimaksimalkan klub-klub Indonesia versi pikirantrader.com.

Baca Juga  Mesin Pencetak Uang Bali United: Bali United Cafe

1. Tiket Masuk

Tiket masuk stadion di laga kandang merupakan potensi pendapatan klub-klub sepak bola Indonesia yang harus dimaksimalkan. Bahkan, ada klub yang bergantung pada pos pendapatan satu ini untuk ‘bertahan hidup’.

Uang dari hasil penjualan tiket masuk stadion ini merupakan pendapatan klub yang bisa digali setiap sebelum menjalani laga kandang. Memanfaatkan keberadaan ticket box atau penjualan tiket online merupakan upaya untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor ini.

Ada beberapa klub sepak bola dengan basis suporter besar di Indonesia. Hal tersebut tentu bisa menjadi keuntungan bagi klub yang bersangkutan untuk memaksimalkan pemasukannya dari tiket masuk stadion. Besarnya pasar penjualan tiket membuat pihak klub bisa agak bebas menentukan nominal harga tiket, dengan menjual loyalitas suporter. Seharusnya pihak klub tak takut ditinggal suporter sebagai salah satu mesin pencetak uang mereka.

Inovasi bisa dilakukan pihak klub untuk memaksimalkan sektor tiket masuk ini. Salah satunya dengan menggandeng sponsor khusus pencetak tiket demi mengurangi ongkos cetaknya. Bisa pula dengan mengajak kerja sama beberapa brand sponsor untuk memasang brand mereka pada tiket yang dicetak.

Menjual tiket dengan sistem online juga bisa menjadi solusi memaksimalkan pendapatan bagi klub. Asal, menjualnya benar-benar secara online. Bukan pembeliannya saja yang online, kemudian para pembeli tiket masih harus mengantre di loket untuk menukarkan bukti pembelian online demi mendapatkan tiket aslinya. Penjualan tiket online yang benar adalah dengan memanfaatkan semacam barcode yang didapatkan si pembeli usai membelinya melalui internet, dan langsung bisa discan saat masuk pintu stadion.

Baca Juga  Hal-hal Penting yang Perlu Anda Tahu Tentang Kredit Tanpa Agunan (Part 2)

2. Hak Siar Televisi

Potensi pendapatan klub-klub sepak bola Indonesia yang bisa dimaksimalkan lainnya adalah hak siar televisi. Pendapatan dari sektor ini mencakup untuk siaran langsung pertandingan di kompetisi domestik maupun saat berlaga di pentas internasional.

Kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia tiap musimnya selalu disiarkan langsung oleh pihak televisi yang menandatangani kontrak resmi. Tentu saja hak siar diberikan pihak televisi kepada klub-klub kontestan melalui operator kompetisi. Setiap klub berhak mendapatkan sejumlah uang setiap disiarkannya laga yang dijalani. Di Indonesia, umumnya pendapatan hak siar itu diberikan tiap akhir musim.

Tentu saja, pendapatan klub-klub kecil dari hak siar televisi ini berbeda dengan klub-klub besar yang sudah punya nama. Semakin klub sepak bola itu punya nama, maka akan semakin sering pertandingannya disiarkan secara langsung oleh pihak televisi yang menyeponsori kompetisi. Rating tayangan cukup berpengaruh terhadap nilai hak siar tersebut. Laga kandang dan laga tanda pun berbeda nilainya.

3. Komersialisasi

Potensi pendapatan klub-klub sepak bola Indonesia yang ketiga adalah komersialisasi. Banyak hal yang bisa digali pihak klub jika ingin memperkaya diri lewat sektor ini. Bahkan, sektor ini kerap menjadi sektor andalan bagi klub-klub maju.

Pertama adalah mendatangkan sebanyak mungkin sponsor untuk klub. Kompensasi sponsor ini umumnya menempatkan logo produk mereka pada jersey yang dipakai bertanding, jersey latihan, atau pada papan iklan saat melakoni laga kandang.

Baca Juga  4 Langkah untuk Meraih Kebebasan Finansial

Menjual jersey resmi klub merupakan upaya lain dalam memaksimalkan sektor komersialisasi ini. Tak heran, klub-klub besar di Indonesia berlomba-lomba memiliki toko resmi sendiri yang menjual aneka produk resmi (merchandise) mereka untuk para fans.

Memiliki Sekolah Sepak Bola (SSB) atau akademi sepak bola sendiri juga mendatangkan pemasukan lain dari sektor ini. Mengadakan festival atau turnamen sepak bola antas SSB dan akademi merupakan bagian dari usaha memaksimalkan pemasukan dari sektor ini. Termasuk pula menggelar coaching clinic ke sekolah-sekolah di mana mereka juga akan meraup pendapatan ‘sampingan’.

Membuka member card atau kartu anggota resmi untuk para fans juga bisa dijadikan ‘bisnis klub’ di sektor komersialisasi ini. Fan base yang digarap oleh klub dijamin dapat mendatangkan banyak pemasukan, terutama bagi klub sepak bola dengan banyak suporter.

Sejatinya, di sektor komersialisasi ini ada banyak hal lagi yang sayang belum bisa dikembangkan oleh klub-klub sepak bola Indonesia. Salah satunya dengan memaksimalkan keberadaan stadion sebagai kandang klub. Maklum, belum ada klub sepak bola Indonesia yang memiliki stadion sendiri alias masih menyewa Pemerintah Daerah setempat.

Lihat saja di Eropa, banyak klub yang mengkomersilkan nama stadion mereka dengan menggandeng pihak sponsor. Dijamin, pemasukan dari sektor ini lebih besar dari sekadar memiliki sponsor utama di jersey. Tak jarang, klub-klub Eropa itu juga mengembangkan pusat perbelanjaan, arena hiburan, kafe, dan bermacam bidang usaha di stadion milik mereka. Sektor inilah yang sebanarnya banyak mendatangka uang, namun belum digarap oleh klub-klub sepak bola Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Cara Bangkit dari kerugian trading

Bagaimana Cara Bangkit Setelah Mengalami Kerugian saat Trading? (Part 2)

cara mengatasi metatrader yang tidak terhubung

5 Cara Mengatasi Metatrader yang tidak Terhubung