Switch to the dark mode that's kinder on your eyes at night time.

Switch to the light mode that's kinder on your eyes at day time.

in

Risiko Investasi Bitcoin

Harga bitcoin mengalami penurunan

Demam investasi Bitcoin semakin mewabah di tengah masyarakat. Kehadiran uang virtual ini terus dimanfaatkan sebagai tambang untuk menggali keuntungan. Termasuk di Indonesia.

Bitcoin merupakan salah satu jenis cryptocurrency atau mata uang digital dengan kapitalisasi terbesar hingga saat ini, yaitu  mencapai sekitar Rp 2.418 triliun. Tidak sedikit orang yang mendadak kaya karena Bitcoin. Tapi gak sedikit pula orang yang tiba-tiba miskin gara-gara uang digital ini.

Bagi Anda yang tertarik untuk investasi Bitcoin, jangan buru-buru. Ketahui dulu risiko – risiko yang membayangi jika ingin investasi bitcoin. Berikut ini di antaranya:

1. Volatilitasnya Cukup Tinggi

George Soros berpendapat  bahwa Bitcoin bukanlah sebuah mata uang karena adanya unsur spekulasi padanya.

Nilainya tidak stabil dan bisa naik turun sangat cepat. Dengan demikian, sulit menganggap Bitcoin sebagai mata uang.

Salah satu pemicu fluktuasi ini sangatlah sederhana, misalnya saat seseorang transaksi jual-beli Bitcoin dalam harga besar, maka secara otomatis harga Bitcoin pun akan bergerak secara ekstrem.

Baca Juga  Mantap! 4 Hari IHSG Menghijau

Saat Anda menjual, harga otomatis turun karena supply bertambah, demikian sebaliknya.

2.  Merupakan Sebuah Antusiasme Sesaat

Sejumlah pakar global menjelaskan kecemasan mereka akan investasi pada cryptocurrency. Mereka berpendapat, cryptocurrency hanya akan menjadi sebuah ‘bubble’ (antusiasme sesaat) yang siap meledak.

Banyak pakar yang menjelaskan bahwa salah satu alasan bahwa investasi Bitcoin tidak akan berakhir dengan baik adalah karena ini hanyalah sebuah antusiasme sesaat.

Terutama dengan jangka waktu pendek ini, para investor kemungkinan tidak memiliki banyak kesempatan untuk memahami fenomena tersebut.

3. Belum Jelas Regulasinya

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melarang lembaga jasa keuangan memanfaatkan dan memasarkan mata uang digital atau “Bitcoin” karena tidak adanya legalitas dari Bank Indonesia.

Dikutip dari Rubrik Finansialku, Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fithri Hadi menjelaskan penyebab larangan ini dalam 3 poin berikut:

  1. Belum diketahui nilai fundamental atau fungsi dari Bitcoin secara mendasar, berbeda dengan instrument lainnya yang sudah memiliki fungsi jelas secara fundamental.
  2. Kesulitan dalam mencocokkan Bitcoin sebagai mata uang mengingat Undang-Undang (UU) Mata Uang menegaskan bahwa hanya Rupiah yang menjadi alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  3. Tidak ada yang bisa dijadikan jaminan (underlying) yang mendasari Bitcoin sebagaimana produk investasi lainnya.
Baca Juga  Investasi Rumah Kontrakan? Simak Tips Jitu Berikut!

Kesimpulannya, OJK masih dalam proses menuju penetapan kebijakan terkait Bitcoin serta kaitannya dengan perlindungan kepada konsumen atau masyarakat. Dengan demikian, belum ada regulasi yang jelas menyangkut Bitcoin.

 

Tinggalkan Balasan

Fakta dibalik mitos investasi saham

IHSG Siap Menyambut Esok Hari Yang Cerah

gaya hidup sukses

Ingin Jadi Orang Sukses? Coba Terapkan Gaya Hidup Ini! (Part 2)

Back to Top