in

4 Investasi Safe Haven Selama Corona Belum Mereda

investasi safe haven
(C) shutterstock

.Merebaknya wabah virus corona ke beberapa negara membuat investor cenderung menghindari instrumen investasi berisiko dan cenderung memilih investasi yang aman (safe haven) meski potensi keuntungannya lebih kecil.

Instrumen investasi seperti saham mulai dihindari karena potensi penurunannya cukup besar akibat wabah virus corona dari kota Wuhan China yang berpotensi memukul perekonomian skala global hingga ekonomi dalam negeri yang masih stabil di atas 5%.

Investasi yang dirangkum CNBC Indonesia berikut ini bisa dikatakan cocok untuk investasi di kala virus corona masih menjadi wabah dunia:

1. Reksa Dana Non-Saham

Reksa dana (RD) merupakan instrumen investasi yang terdiri dari beberapa portofolio investasi, antara lain: saham, obligasi/surat utang, dan deposito.

Ada empat jenis reksa dana yang dijual bebas (open end) disesuaikan dengan besarnya aset dasar investasinya (underlying asset) seperti RD saham (minimal 80% di saham), RD pendapatan tetap (minimal 80% obligasi), RD pasar uang (80% surat utang kurang dari setahun), dan RD campuran (maksimal 70% di salah satu aset sebelumnya).

Baca Juga  Mantap! 4 Hari IHSG Menghijau

Guna menghindari fluktuasi dan potensi penurunan aset, sebaiknya pilihlah reksa dana non saham seperti RD pasar uang dan RD pendapatan tetap.

2. Surat Berharga Negara Ritel (SBR)


Obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara Ritel (SBR) dikenal sebagai aset yang bebas risiko karena pengembalian investasi awal (nilai pokok) dan bunga (coupon) yang didapat dijamin oleh negara.

Kementerian Keuangan, pada Senin (27/1/2020) pekan lalu mulai menjual Surat Utang Negara dengan seri SBR009. DJPPR menjelaskan masa penawaran SBR009 akan berakhir tanggal 13 Februari 2020 pukul 10.00 WIB. Kemudian, penetapan Hasil Penjualan akan diumumkan pada tanggal 17 Februari 2020.

Bagi individu yang berminat, dapat berinvestasi dengan melakukan pemesanan melalui sistem aplikasi Mitra Distribusi dengan minimal pembelian Rp 1 juta dengan imbal hasil 6,30% per tahun.

3. Deposito

Deposito merupakan instrumen investasi yang dikeluarkan oleh sebuah bank di dalam negeri. Perlu dicatat, bahwa hanya deposito yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) maksimal hanya Rp 2 miliar dan bunganya sesuai dengan ketentuan LPS.

Baca Juga  5 Penyakit Penghambat Investasi di Indonesia

4. Emas

gold grade
(C) shutterstock

Sampai saat ini, emas masih menjadi logam mulia yang paling banyak dijadikan investasi. Emas termasuk instrumen investasi yang mudah dikelola, dicairkan, serta diperjualbelikan.

Harga emas di tingkat global kembali berada di jalur tertingginya dalam lima bulan terakhir. Seiring kekhawatiran akan perlambatan ekonomi yang timbul dari epidemi virus corona yang semakin banyak memakan korban.

Sebaiknya berinvestasilah pada emas batangan karena kadarnya yang lebih tinggi hingga 99%. Semakin besar berat batang emas maka semakin murah harganya karena ongkos produksinya yang lebih murah.

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 4 Februari 2020

Pahami Hal Berikut Ini Sebelum Berinvestasi