in

Efek Corona, Harga Rumah Merosot Tajam

Harga rumah merosot
Photo by Tierra Mallorca on Unsplash

Harga rumah bekas atau rumah second merosot tajam. Hal ini terjadi karena efek dari penyebaran virus Corona yang tak kunjung usai.

Nilai penurunan yang terjadi juga dinilai cukup tajam. Nilai yang turun jauh lebih banyak daripada saat sebelum adanya virus ini.

Harga Rumah Merosot Tajam

Dilansir dari CNBCIndonesia, Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Lukas Bong menyatakan bahwa turunnya harga rumah ini sudah melewati batas wajar.

Menurut Lukas, properti rumah mewah dan rumah toko (ruko) dengan lokasi strategis dan harga melebihi Rp1 miliar mengalami oenurunan hingga 30 persen.

Properti yang memiliki nilai di bawah Rp500 juta juga mengalami pelemahan, walaupun pelemahan yang terjadi tidak sebesar properti yang memiliki harga lebih tinggi.

Lukas menyatakan bahwa koreksi yang dirasakan untuk properti di bawah Rp500 juta dinilai tidak terlalu banyak karena adanya harga rill market. Menurutnya koreksi maksimumnya adalah 10 persen.

Dengan menurunnya harga tersebut, banyak investor properti yang mulai bergerak dan mulai berinvestasi.

Baca Juga  6 Contoh Aset Safe Haven

Lukas menyatakan bahwa sudah banyak investor yang mulai mengambil ancang-ancang untuk mencari jenis properti yang tepat.

Investor akan mencari rumah dengan harga miring, terutama dengan kondisi seseorang yang sedang butuh uang. Hal tersebut memaksa pemilik rumah untuk menjual rumahnya dengan harga yang cenderung lebih murah.

Lukas berkata bahwa kondisi saat ini adalah saat yang tepat untuk berinvestasi properti. Hal ini dikarenakan semua orang pasti membutuhkan properti, walaupun ada ataupun tidak ada virus ini.

Lukas menyatakan bahwa penurunan seperti ini baru pertama kali ia rasakan, dengan jumlah penurunan yang dinilai luar biasa.

Memang, harga properti pada saat krisis moneter yang terjadi di tahun 1998 menurun cukup tajam. Namun, penurunan tersebut tidak separah saat pandemi ini.

Peluang menurunnya harga rumah ini juga banyak dimanfaatkan oleh investor yang berinvestasi di mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS).

Lukas berkata bahwa jika dulu ada investor yang membeli dolar dengan harga Rp10 ribu per dolar mereka untung banyak.

Baca Juga  4 Saham Perusahaan Rokok di Indonesia, Minat?

Hal ini dikarenakan harga dolar sudah mengalami peningkatan hingga di level Rp15 ribu per dolar.

Jika mereka menjual dolar mereka dan membeli properti dengan harga yang sudah turun 30 persen, investor bisa mendapatkan properti dengan separuh harga.

New Normal sektor pariwisata

New Normal Sektor Pariwisata, Jangan Terburu-buru!

serangan dagang china

Serangan Dagang China Terhadap Australia, Pemicunya?