in

Kelemahan Price To Earning Ratio

Mengenal Simple Moving Average (SMA) Sebelum Main Saham

Setiap investor memanfaatkan Price To Earning Ratio (P/E Ratio) sebagai salah satu alat untuk menaksir nilai saham sebuah perusahaan sebelum berinvestasi. Namun, sebagai investor, Anda harus mempelajari apa saja kelemahan Price To Earning Ratio sebelum menggunakannya.

Secara harfiyah, P/E Ratio adalah alat utama untuk menghitung harga saham suatu perusahaan yang dibandingkan dengan pendapatan perusahaan. Nilai price to earning ini sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan seorang investor, sebelum menginvestasikan uangnya.

Investor akan mengamati dulu P/E ratio ini sebelum berinvestasi. P/E ratio juga turut menjadi penentu seorang investor masuk dalam jenis investor apa. Seorang investor bisa digolongkan dalam beragam jenis berdasarkan tujuannya berinvestasi. Sebut saja Investor Pertumbuhan, Investor Pertumbuhan Agresif, Investor Apresiasi Modal, Investor Nilai, atau Investor Pendapatan.

Menghitung P/E ratio cukup mudah jika mau memperhatikan rumusnya. Yang jelas, P/E ratio adalah perbandingan antara harga saham dengan earning per share. Dua faktor itulah yang menjadi patokan menentukan rumusnya.

Lalu, Apa Saja Kelemahan Price To Earning Ratio?

1. Manipulasi Pendapatan

P/E ratio memiliki kelemahan manipulasi pendapatan. Seperti disebutkan di atas, ada sejumlah perusahaan yang sengaja menggunakan berbagai teknik akuntansi untuk mengubah net income yang dilaporkan.

Baca Juga  Mengenal Trading Emas Online Di Pasar Forex

Perubahan net income itu yang membuat pendapatan yang dilaporkan seringkali tidak mencerminkan keadaan finansial perusahaan yang sebenarnya. Net income merupakan komponen utama untuk mengitung P/E Ratio suatu perusahaan. Karenanya, manipulasi pendapatan dapat menjerumuskan investor pada data P/E Ratio yang salah.

2. Perbedaan Industri

Perbedaan industri biasanya memiliki tingkat pertumbuhan historis, tingkat risiko, dan lain‐lainnya yang juga berbeda. Maka, perbedaan itu juga membuat perbedaan nilai P/E Ratio.

Karenanya, saham yang mungkin terlihat murah pada satu industri, bisa jadi terlihat mahal ketika dibandingkan pada lain industri. Alasan ini berlaku ketika investor membandingkan P/E Ratio antar perusahaan dalam satu sektor industri.

3. Adanya Faktor Lain

P/E ratio hanya menghitung berdasar dua faktor, yaitu harga saham saat ini dan pendapatan bersih perusahaan tersebut. Namun, ternyata ada faktor-faktor lain yang turut memengaruhi. Karena dalam rumus pengitungannya hanya terdapat dua faktor di atas, P/E ratio akan mengabaikan faktor-faktor lainnya yang sebenarnya tak kalah pentingnya.

Salah satu faktor penting itu adalah proyeksi tingkat pertumbahan di masa depan. Jika satu perusahaan memiliki tingkat pertumbuhan dua kali dari perusahaan satunya, maka perusahaan dengan tingkat pertumbuhan lebih tinggi itulah pilihan investasi yang paling direkomendasikan untuk jangka panjang.

Baca Juga  Risiko Investasi Bitcoin (Part 2)

4. Volatilitas dan Risiko

Volatilitas dan risiko juga tak berpengaruh terhadap P/E ratio. Ini juga menjadi salah satu kelemahan yang harus diwaspadai.

Misal, dua perusahaan yang memiliki P/E Ratio yang sama. Perusahaan pertama memiliki pendapatan dan sumber penghasilan yang dapat diandalkan, sedangkan perusahaan kedua tak pasti. Maka, bisa dibiling perusahaan dengan pendapatan yang dapat diandalkan itulah pilihan yang tepat untuk berinvestasi untuk jangka panjang.

Moving Average sebagai Indikator dalam Trading Saham

Pentingnya Price To Earning Ratio

investasi aman new normal

Investasi Aman di Era New Normal