in

Ketika Pasar Saham Bergejolak

Harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) nampaknya mengalami pergerakan yang tak menentu bagaikan gelombang di lautan. Adanya perang tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China telah memberikan dampak pada harga saham yang fluktuatif. Kondisi pasar saham yang bergejolak ini bisa membuat pelaku pasar menjadi gusar.

Akibat dari moodynya bursa ini adalah investor yang bermentalkan kurang kuat akan merasa terguncang. Tidak semua investor tahan melihat penurunan harga saham yang dimiliki, apalagi jika penurunan harga saham tersebut cukup dalam, dan terjadi hanya dalam waktu sehari, apalagi bila terjadi selama beberapa hari. IHSG untuk beberapa bulan terakhir ini saja telah mengalami ayunan (swing) yang bisa membuat investor mual dan pusing.

Baca juga: Bukalapak PHK Ratusan Karyawan, Saham EMTK Anjlok

Faktor apa saja yang membuat saham bergejolak?

Dikutip dari Kontan.co.id, ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi pasar saham yang bergejolak. Baik faktor yang rasional maupun irasional. Yang termasuk faktor rasional adalah faktor fundamental perusahaan, kondisi ekonomi global maupun nasional, dan peraturan pemerintah.

Baca Juga  3 Profesi untuk Kalian yang Cerdas Berinvestasi

Sedangkan untuk faktor irasional meliputi persepsi dan keyakinan pelaku pasar (investor) terhadap prospek di bursa saham. Ada juga faktor psikologis seperti ikut-ikutan (herding behavior) yang membuat harga saham makin bergejolak.

Baca juga: Aduh! Salah Satu BUMN Kertas Bangkrut, Berapa ya Utangnya?

Tipe Investor yang Gampang Panik

Investor yang gampang khawatir bahkan panik ketika melihat ‘api’ dalam portofolionya yaitu tipe investor yang labil.

Yang dimaksud labil adalah investor yang tidak yakin dengan fundamental perusahaan yang sahamnya ia beli atau pegang. Hal ini bisa terjadi karena investor saat membeli saham tersebut tidak terlalu mengenal saham yang ia beli tersebut.

Investor jenis ini mungkin hanya latah ketika melihat harga saham yang sedang mengalami tren naik. Atau bisa juga, gampang terpengaruh oleh teman dan broker (perusahaan sekuritas).

Dan hal ini tentu berimbas pada cepatnya mereka dalam membuat suatu keputusan ketika harga saham mengalami penurunan. Investor tersebut akan mudah panik dan segera melakukan tindakan jual-rugi (cut loss). Ironinya, tipe investor saham yang membeli tanpa pertimbangan matang seperti ini jumlahnya sangat banyak.

Baca Juga  Indonesia Tak Asing dengan Generasi Sandwich

Baca juga: Menuai Pro-Kontra, Berikut Beragam Fakta Dibalik Penghentian Audisi Beasiswa PB Djarum! Part 1

Solusinya bagaimana?

Jadilah investor yang cerdas dengan mengenali terlebih dahulu saham atau perusahaan yang akan anda beli. Know what you buy, and buy what you know, kata Peter Lynch, fund manager legendaris.

Selain itu, harus lebih pintar dan kritis dalam menyikapi rekomendasi saham yang harus dibeli. Karena bisa saja si pemberi rekomendasi ini sudah memiliki saham tersebut, jadi ia berusaha mengiming-imingi investor/trader yang lain untuk membelinya agar harganya bisa naik. Dan akhirnya, ia bisa segera menikmati keuntungan (profit taking).

Tinggalkan Balasan

Manfaat SEO untuk Bisnis Online yang Harus Anda Ketahui

20 juta untuk beli iPhone atau investasi

Tertarik Tanam Saham di Apple Sampai Microsoft? Begini Caranya!