in

Situasi Ekonomi Up and Down: Pilih Investasi Dolar AS atau Emas?

investasi dolar AS atau emas

Saat ini, kondisi pereknomian baik global maupun nasional sedang tak menentu. Hal ini tentu membuat pelaku pasar mulai mempertimbangkan investasi aman (save haven) untuk menjaga hartanya. Pilihannya ada dua, yakni Investasi dolar AS atau investasi emas.

Baca juga: Investor Resah, IHSG Terpuruk Se-Asia!

Investasi Save Haven yang Termudah

Terdapat dua jenis instrumen investasi yang paling mudah untuk dijadikan sarana investasi saat kondisi ekonomi tak menentu. Yaitu investasi dolar Amerika Serikat (AS) dan emas.

Sejak akhir tahun lalu, tepatnya pada saat China dan AS terbakar panas-panasnya perang dagang, investor sudah mulai beralih. Para investor tentu telah berbondong-bondong mendiversifikasi sebagian dari investasi mereka ke kedua instrumen tersebut.

Lantas, bagaimanakah kinerja dolar AS dan emas?

Menurut tim riset CNBCIndonesia, kinerja instrumen investasi dolar AS atau emas sepanjang setahun berjalan ini (year to date) berbeda, berikut ulasannya.

Sejak awal tahun 2019, emas Antam ukuran 1 gram harganya mengalami kenaikan sebesar Rp 85.000/gram atau 12,74% menjadi Rp 752.000/gram. Dibandingkan dengan posisi penutupan akhir tahun lalu, yaitu berharga Rp 667.000/ gram.

Baca Juga  Beli Rumah? Ini 4 Keuntungan KPR yang Perlu Diketahui

Berkebalikan dengan emas, dolar Amerika Serikat justru tidak memberikan keuntungan apa-apa. Pasalnya, rupiah menguat 1% sejak awal tahun dengan perdagangan terakhir berada di Rp 14.085/Dolar AS.

Untuk itu, berinvestasi pada logam mulia, khususnya emas produksi Antam lebih menjanjikan jika dibandingkan berinvestasi pada dolar AS.

Baca juga: Revisi UU KPK: Demo Dimana-mana, Penghambat Investor Masuk Indonesia

Pergerakan dolar AS

Sepanjang tahun 2019, pergerakan dolar AS terhadap rupiah bersifat volatil dengan pelemahan yang paling dalam pada 22 Mei yang lalu di level Rp 14.520/ dolar AS. Sementara itu, penguatan rupiah terkuat terjadi pada 15 Juli pada level Rp 13.915/ dolar AS.

Rupiah yang menguat ini disebabkan oleh investasi portofolio atau sering dikenal dengan hot money yang masuk Indonesia. Di pasar obligasi, investasi asing yang masuk mencapai Rp 126,3 triliun. Sedangkan di pasar saham mencapai Rp 54,7 triliun.

Investor asing yang masuk ke obligasi ini dikarenakan tingkat imbal hasil (yield) yang masih menarik di tengah mata uang rupiah yang cukup stabil.

Baca Juga  Pangsa Pasar Reksadana Syariah Nyaris Sentuh 10 Persen

Dikutip dari CNBCIndonesia, suku bunga obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dihargai 1,76% setahun. Bandingkan dengan obligasi pemerintah Indonesia yang berimbal hasil 7,21% dengan tenor yang sama.

Baca juga: Perhatikan! 4 Hal Yang Buat Pasar Saham Harap-Harap Cemas Minggu Depan

 

Tinggalkan Balasan

REVIEW BROKER Hanson Semesta Berjangka

REVIEW BROKER Hanson Semesta Berjangka

5 penyakit investasi di Indonesia

5 Penyakit Penghambat Investasi di Indonesia