in

Enaknya Beli Saham Langsung Borong atau Dicicil?

Fakta dibalik mitos investasi saham
Tips untuk Mahasiswa Investor Pemula

Saham adalah instrumen investasi jangka panjang yang dengan mudah ditransaksikan. Selain itu, keuntungan yang didapat pun bisa sangat tinggi dibandingkan instrumen investasi lainnya. Nah, ketika kamu sudah menentukan saham mana yang ingin dibeli, ini saatnya untuk memilih metode yang digunakan untuk membeli saham. Apakah akan dibeli sekaligus alias borong atau dicicil?

Baca juga: Perhatikan Beta Sahamnya Agar Dapat Cuan!

Metode membeli saham

Dikutip dari CNBCIndonesia, ada dua metode yang bisa digunakan dalam membeli saham. Yaitu beli saham secara sekaligus alias borong (lump sum) dan dicicil (dollar cost averaging/DCA).

1. Metode Lump Sum

Metode ini akan sangat cocok diaplikasikan oleh investor yang sudah mahir berinvestasi saham. Kuncinya adalah dengan memahami kondisi pasar yang mana dipadu padankan dengan analisis teknikal.

Metode lump sum bisa memberikan returnmaksimal saat harga saham berada di level bawah. Selain itu, juga bisa berpotensi mengalami kenaikan di masa mendatang karena didukung fundamental perusahaan yang masih baik.

Namun, metode ini jangan digunakan saat kondisi pasar yang cenderung fluktuasi. Sebagai ilusri suatu kondisi pasar yang fluktuatif sebagai berikut:

Baca Juga  3 Jenis Investasi Jangka Pendek yang akan Memutar Dana Anda

Baca juga: Gojek Ditinggal Nadiem, Apakah Jadi IPO ?

Ada seorang investor bernama Dudung membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di harga Rp 5.000/saham sebanyak 50 lot (5.000 unit saham) dengan dikenakan fee beli 0,15%. Sehingga uang yang dibutuhkan untuk membeli saham tersebut senilai Rp 25.037.500, hasil dari: Rp 5.000 X 5.000 X 100 unit saham, ditambah biaya 0,15%.

Karena kondisi pasar yang kurang baik, akhirnya harga saham tersebut mengalami penurunan. Pasalnya banyak investor yang menjual saham mereka. Setelah 3 bulan, harganya mulai turun menjadi Rp 4.500/saham.

Lima bulan kemudian, harganya kembali naik menuju harga awalnya di level Rp 5.000/saham. Bisa dikatakan Dudung tidak memperoleh keuntungan apa-apa karena harganya berfluktuasi selama periode tersebut. Bahkan Dudung masih mengalami kerugian atas investasinya karena dibebankan biaya pembelian atau fee 0,15%.

2. Metode Dolar Cost Averaging (DCA)

Metode satu ini sangat cocok diaplikasikan untuk mengurangi fluktuasi harga saham sehingga menuai cuan yang banyak dalam berinvestasi. Contoh simulasinya seperti ini:

Baca Juga  Mengetahui Saham Preferen dan Cara Menghitungnya

Dudung mempunyai target untuk membelikan gajinya sebesar Rp 1 juta/ bulannya untuk saham BBRI. Awalnya harga per lembarnya adalah Rp 5 ribu. Kemudian, karena faktor dalam negeri dan kondisi global kurang kondusif harganya mengalami penurunan.

Pada bulan kedua, harga sahamnya turun menjadi Rp 4.750/unit. Dudungpun kembali membeli saham tersebut dengan jumlah yang sama yakni Rp 1 juta.

Selanjutnya, pada bulan ketiga, saham masih mengalami penurunan. kali ini berada pada level Rp 4.500/unit dan Dudung pun kembali membeli saham BBRI tersebut senilai Rp 1 juta.

Baca juga: Jokowi Yakin Tahun 2045 Indonesia Masuk 5 Besar Ekonomi Dunia

Pada bulan keempat, harga sahamnya naik menjadi Rp 4.750/lembar. Dudung lagi lagi membeli saham tersebut dengan uang Rp 1 juta.

Selanjutnya, pada bulan kelima mengalami kenaikan lagi ke harga semula, yakni Rp 5 ribu per lembar. Dudung kembali melakukan pembelian sebesar Rp 1 juta.

Nah, dalam rentang waktu 5 bulan tersebut, jika dirata-rata harga sahamnya menjadi Rp 4.807/ lembar. Jadi, Dudung memiliki keuntungan sebesar 3,85% atau setara dengan Rp 192.500.

Baca Juga  Mau Beli Saham Penyokong Gundala?

Dapat disimpulkan bahwa menggunakan metode DCA alia dicicil lebih aman karena memperkecil fluktuasi harga saham.

Tinggalkan Balasan

Trading berdasarkan Sentimen Twitter – Penawaran Baru eToro untuk Cryptocurrency Trading

Marketplace Reksadana

Simak Investasi yang Cocok Untuk Penikmat Zona Nyaman !