in

Profesional Mampu Jadikan Startup Unicorn Indonesia Setara dengan Alibaba

bekerja di Perusahaan Startup
Group of Diverse People Brainstorming About "Startup"

Fokus strategi startup yakni mengejar laba dan meningkatkan skala, hal ini diyakini bisa meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong kinerja keuangan. Perlu diingat bahwa Startup Indonesia harus belajar dari kesalahan kasus WeWork dan belajar dari profesionalisme transisi kepemimpinan Alibaba.

Baca juga: Gojek Xcelerate, Program Gibran dan Gojek Siap Latih 20 Startup Jadi Unicorn

Belajar dari kesalahan WeWork

Kasus perusahaan penyedia ruang kerja WeWork perlu dipelajari oleh startup di Indonesia agar tidak jatuh pada jurang yang sama. WeWork yang terus menerus membakar uang untuk promosi, sekitar US$2,8 miliar per tahun, namun kinerjanya tak kunjung positif.

Menurut Heru Sutadi, pengamat ekonomi digital, sangatlah wajar jika manajemen startup mengincar laba tahun depan. Karena itu, langkah Bukalapak dan Tokopedia mengedepankan strategi inovasi agar menghasilkan profit, sudah sangat tepat.

“Sekarang semua unicorn arahnya mulai memoles kinerja keuangan, termasuk efisiensi. Tujuannya jelas, akan masuk ke bursa. Sehingga, istilah bakar duit dengan promo segala macam akan dikurangi agar tidak ada lagi pengeluaran besar-besaran dan di sisi lain pemasukan akan semakin besar,” kata Heru dikutip dari Bisnis.com.

Baca Juga  Memulai Bisnis Kerajinan, Yakin Mau Coba?

Dalam kasus WeWork, perusahaan tersebut mencatatkan kerugian hingga US$1,25 miliar atau setara Rp 17,5 triliun. Kerugian ini rupanya meningkat 150% dibandingkan periode tahun 2018. Hal ini tentu sangat merugikan bagi SoftBank.

Dari kasus ini, Softbank akan belajar banyak untuk pengelolaan startup yang mereka danai. Dengan begitu, akan ada evaluasi dan penekanan terhadap perusahaan yang didanai agar lebih efisien dan tidak bakar-bakar uang lagi.

Baca juga: Mengenal Penerus Bisnis Imperium Ciputra: ‘Konstitusi Keluarga’

Meniru profesionalisme Alibaba

Agar bisa sukses, startup unicorn Indonesia dituntut untuk meniru profesionalisme Alibaba dalam melakukan scale-up, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan keuntungan. Alibaba berhasil melakukan semua ini meskipun baru saja ditinggal pendirinya, Jack Ma.

Tercatat bahwa perusahaan bervaluasi Rp2.000 triliun itu telah melakukan pencatatan perdana di bursa saham Hong Kong dan berhasil menghimpun dana sebesar US$ 11,3 miliar. Pada hari pertama perdagangannya, harga saham Alibaba melesat lebih dari 6%.

Ekonom Piter Abdullah mengatakan bahwa apa yang diraih Alibaba karena manajemen memiliki visi yang sangat jelas dan kemudian juga dieksekusi dengan sangat baik. Alibaba juga tidak bergantung pada figur, namun pada kepemimpinan manajerial yang profesional.

Baca Juga  Mari Berkenalan dengan Co-working Space Indonesia

Di sini, faktor kepemimpinan sangatlah penting. Pemimpin yang baik tidak saja mampu memaksimalkan semua resources organisasi, tapi juga bagaimana dia mempersiapkan sistem agar organisasi menjadi tidak bergantung kepada seorang pemimpin.

“Termasuk juga mempersiapkan sistem suksesi yang menjamin tidak terputusnya kepemimpinan yang baik di organisasi, seperti Alibaba.”

Menurut Piter, Indonesia sudah punya beberapa unicorn dan satu decacorn, didukung oleh pasar lumayan besar, Indonesia akan mampu menciptakan raksasa-raksasa perusahaan digital. Syaratnya dukungan lingkungan yang kondusif yang harus diciptakan oleh otoritas atau pemerintah.

Baca juga: Penjualan Xiaomi Melemah, Huawei Menguat

Tinggalkan Balasan

Wajib Simak 8 Kesalahan dalam Membuat Rencana Dana Pensiun (Part 2)

Keuntungan Trading di Broker XM

Keuntungan Trading di Broker XM