in

Dampak Konflik Geopolitik AS-Iran Terhadap Ekonomi Indonesia

Konflik Geopolitik AS Iran
Konflik Geopolitik AS Iran (C) Shutterstock

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor eksternal risiko perekonomian baru di awal 2020.

Seperti yang diketahui, Iran melaksanakan aksi balas dendam terhadap AS dengan menyerang pangkalan militer AS yang berada di Irak pada Rabu (8/1) pagi. Sebelumnya, Jumat pekan lalu, AS melakukan serangan militer yang menewaskan pemimpin militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah saat ini mewaspadai pengelolaan dan anggaran negara.

“Jadi ada optimisme recovery perekonomian di 2020, tetapi ada juga risiko yang bisa memengaruhi outlook tersebut,” tutur Menkeu, dari Kontan.co.id

Dalam APBN 2020, pemerintah juga sudah menetapkan asumsi harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 63 per barel. Asumsi tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 70 per barel. Namun sedikit lebih tinggi dari realisasi rata-rata ICP sepanjang 2019 yang tercatat sebesar US$ 62 per barel.

Selain itu, Konflik AS-Iran yang kian meruncing ini membawa harga minyak dunia melesat. Hari ini hingga pukul 12.29 WIB harga minyak west texas intermediate (WTI) naik 1,32% ke US$ 63,53 per barrel.

Baca Juga  Bunga Acuan The Fed Katrol Rupiah ke Rp14.160

Bahkan, harga minyak WTI sempat melonjak 4,7% ke US$ 65,65 per barrel dari harga penutupan kemarin pada US$ 62,70 per barrel. Harga minyak acuan AS ini kembali menyentuh level tertinggi sejak April 2019.

Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Akibat dari meningkatnya harga minyak yang signifikan tersebut, dikatakan oleh Kepala Riset MNC Sekuritas,Thendra Crisnanda, dapat melebarkan neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Hal ini dapat mendorong potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tak hanya itu, Thendra juga melihat, bursa saham Indonesia akan terkena dampak negatif atas peningkatan tensi geopolitik AS-Iran berupa koreksi wajar yang dapat terjadi.

“Hampir keseluruhan sektor akan dirugikan karena penurunan daya beli dan peningkatan biaya bahan bakar,” kata dia.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan

5 Kelebihan Trading Futures Yang Lebih Fleksibel

investasi reksadana online

8 Ide Investasi Online Tahun 2020 (Part 1)