in

Rupiah Kembali Layu ke Rp14.212

Rupiah Tembus Rp15.000
Photo by EmAji on Pixabay

Nilai tukar rupiah kembali layu ke Rp.14.212 per dolar AS. Rupiah melemah sejumlah 0,26% di perdagangan pasar spot pagi ini (jumat, 6/3). Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menguat di titik Rp14.175 per dolar AS di perdagangan pasar kemarin (Kamis, 5/3).

Namun pada pagi ini, hampir seluruh mata uang di negara-negara Asia melemah terhadap dolar AS. Sebagai contoh, yen Jepang melemah 0,04%, ringgit Malaysia 0,3%, dan won Korea layu hingga 0,75%.

Pun dengan dolar Singapura dan lira Turki. dolar Singapura mengalami pelemahan sebesar 0,04, sedangkan lira Turki mengalami penurunan tipis sebesar 0,01%.

Namun, ada pula beberapa negara di kawasan Asia yang mengalami penguatan terhadap dolar AS. Negara-negara tersebut adalah Hong Kong dan Thailand. Hong Kong mengalami peningkatan tipis sebesar 0,01%. Begitu pula dengan baht Thailand mengalami penguatan sejumlah 0,08% terhadap dolar AS.

Di sisi lain, banyak nilai tukar negara-negara maju menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia, poundsterling Inggris dan dolar Kanada mengalami penguatan tipis. Poundsterling mengalami penguatan sebesar 0,01%, dolar Australia sebesar 0,01% dan dolar Kanada mengalami penguatan yang paling tinggi yaitu 0,14%. Namun, euro malah mengalami pelemahan. Euro mengalami pelemahan sebesar 0,1% terhadap dolar AS.

Baca Juga  3 Hal yang tidak Perlu Anda Lakukan Setelah Wawancara Kerja

Alasan Rupiah Kembali Layu

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menuturkan di CNNIndonesia.com, alasan mengapa rupiah layu. Pelemahan rupiah bisa saja disebabkan oleh munculnya ekspektasi pesimis pasar atas data pekerjaan di AS karena imbas pandemik Corona.

Menurut Nafan, rupiah diperkirakan terkoreksi terhadap dolar AS, mengingat banyak investor global menunggu data non-farm payroll AS. Selain itu penyebaran virus Corona yang mewabah secara global membuat banyak investor global merasa was-was. Data non-farm payroll AS adalah data yang mengandung jumlah pekerjaan yang bertambah atau berkurang di ekonomi AS sepanjang bulan lalu.

Selain itu, Nafan juga menambahkan bahwa makroekonomi domestik belum dapat memberikan imbas positif yang besar untuk rupiah. Oleh karena itu, Nafan memprediksikan rupiah akan melaju di Rp14.115 sampai Rp14.285 per dolar AS untuk hari ini. Ia juga menambahkan bahwa masih terlihat adanya pola bullish harami candlestick. Pola ini menunjukkan bahwa rupiah memiliki kemungkinan untuk melemah terhadap dolar AS.

 

 

Baca Juga  Instagram untuk Bisnis: Semua yang Harus Anda Ketahui

Bagaimana Cara Trading dengan Price Action?

Pasar Saham Meningkat

Juli 2020 Pasar Saham Berpotensi Meningkat