in

Saham Farmasi Banyak Dilirik Investor

Saham Farmasi Banyak Dilirik Investor
Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak tidak stabil belakangan ini karena adanya pandemi Corona. Walaupun banyak sekali investor yang berhati-hati dalam memilih investasi saham, saham farmasi banyak dilirik investor.

Menurut Ellen May, seperti yang dilansir dari CNNIndonesia, kondisi ini adalah kondisi yang wajar terjadi. Hal ini karena semakin meningkatnya kebutuhan akan obat dan alat kesehatan akibat berkembangnya virus Corona di Indonesia. Mereka juga menambahkan bahwa kebutuhan akan alat kesehatan menjadi prioritas banyak orang, sehingga nilai saham farmasi menjadi naik.

Saham Farmasi Banyak Dilirik Investor

Menurut Ellen, ada 3 emiten saham yang mengalami peningkatan nilai di tengah pandemi Corona. 3 emiten tersebut adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Menurut data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (15/4) kemarin, saham INAF berada pada posisi 1.175. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebanyak 2 kali lipat dalam satu bulan belakangan ini. Saham KAEF juga mengalami peningkat sebanyak 2 kali lipat. Saham KAEF ada di titik 1.356, padahal sebulan sebelumnya saham ini ada pada titik 675. Pun dengan saham dari KLBF yang mengalami penguatan sebanyak 21,5 persen dan bertengger di posisi 1.215.

Baca Juga  Bulan Berkah Promosi Berlimpah hanya di Big Ramadhan Sale Shopee, Menangkan Hadiah Umrohnya!

Akan tetapi jika dilihat dari pendapatan per saham (EPS), saham INAF dan KAEF memiliki nilai negatif. Hal ini menandakan bahwa kedua perusahaan BUMN ini memiliki fundamental yang kurang bagus. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa EPS INAF ada di posisi minus 14,99. Untuk EPS KAEF harus duduk manis di posisi minus 2,27.

KAEF mengalami kerugian sebanyak Rp12,7 miliar pada tahun 2019 lalu. Padahal pada tahun 2018 perusahaan tersebut berhasil mendapatkan untung sebanyak Rp491,56 miliar. Walaupun perusahaan tersebut menuliskan adanya kenaikan pendapatan, perusahaan tersebut masih memiliki beban. Beban yang harus ditopang adalah beban penjualan dan beban usaha.

INAF juga memiliki keadaan yang hampir sama dengan KAEF. Kerugian bersih yang diterima oleh KAEF pada kuartal III 2019 sejumlah Rp38,84 miliar. Kerugian tersebut diperoleh dari penurunan penjualan yang mencapai 21,06 persen.

Oleh karena itu Ellen tidak menyarankan melakukan pembelian kedua saham tersebut. Hal tersebut diutarakan karena KLBF memiliki kinerja yang lebih baik. EPS perusahaan ini mengalami peningkatan terus menerus selama 3 tahun belakangan ini. Pertumbuhan secara year to year perusahaan ini pada tahun 2019 bisa mencapai 2,2 persen. Selain itu pendapatan perseroan juga mengalami peningkatan sebanyak 4,2 persen di 2019. Walaupun KLBF menuliskan adanya rugi selisih kurs sebanyak Rp13,63 miliar.

Baca Juga  Tips Jual Mobil Bekas Agar Harga Tidak Anjlok (Part 2)
Bansos PKH Dicairkan

Bansos PKH Dicairkan Sri Mulyani

harga kurs Rupiah

Update Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar: 16 April 2020