in

Investor Asing Tidak Melirik Lagi Sektor yang Penuh Tenaga Kerja, Kok Bisa?

investasi asing

Ahmad Heri Firdaus, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bahwa investor asing kian meninggalkan sektor primer dan sekunder. Padahal, tenaga kerja di kedua sektor itu paling banyak. Menurut Ahmad, investasi ke lapangan kerja semakin ‘tidak terlihat’.

“Pada kuartal kedua, tenaga kerja sebanyak 255 ribu orang. Kalau kuatal kedua tahun lalu 289 ribu orang. Artinya, terjadi penurunan, sedangkan investasi naik dari 176 triliun ke 200 triliun. Pertanyaannya, investasi model apa yang masuk ke Indonesia?” ujar Ahmad, dikutip dari IDNTimes.

Baca juga: Investasi Ikut Meredup Gara-gara Listrik Padam Massal

1. Penanaman Modal Asing Merosot

Investasi Asing rupanya sudah tidak melirik Indonesia untuk menanamkan modalnya di sektor yang penuh tenaga kerja. Ahmad mengatakan, sektor primer dan sekunder di mana tenaga kerja banyak terserap (50 persen) dan struktur produk domestik bruto (50 persen), semakin ditinggalkan investor asing. Penanaman modal asing (PMA) pun jeblok sampai 20,2 persen.

2. Investasi Asing Bergeser ke Sektor Jasa

Adanya perpindahan yang semula di sektor padat (primer dan sekunder), kini beralih ke sektor tersier seperti jasa keuangan, perdagangan, dan lain-lain.

Baca Juga  Reksadana, Kunci Menuju Financial Freedom

“Ini indikasi kenapa investasi yang masuk kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja semakin sedikit. Ini mencerinkan, investor yang masuk ke sini mencari sektor tersier yang capital intensive, banyak diperlukan capital dibandingkan labour,” ungkapnya.

Baca juga:Imbas Listrik Padam Massal, Gangguan Jaringan Internet dan Layanan ATM Dimana-mana

3. Ekspor Juga Ikut Turun

Nyatanya, semua pasti berekspektasi jika investasi semakin banyak, maka diharapkan semakin tinggi juga pertumbuhan industri. Selain itu, ekspor juga bisa semakin didorong.

“Tapi net ekspor yang menjadi komponen pertumbuhan ekonomi semakin menunjukkan penurunan. Harusnya berkontribusi positif, malah negatif. Ini mereduksi PDB,” pungkas Ahmad.

4. Laju Ekonomi Lebih Rendah Dibandingkan Triwulan I

Menurut Ahmad, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada twirulan II 2019 mengalami kemunduran daripada triwulan I 2019. Dimana triwulan I 2019 mencapai 5,07 persen dan triwulan III 2018 mencapai 5,06 persen.

Sebagai tambahan, rupanya pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang berkontribusi terhadap produk domestik bruto sebesar 59,11 persen. Sementara, pertumbuhan di wilayah Maluku dan Papua masih mengalami kontraksi sebesar -13,2 pesen.

Baca Juga  Perhatikan! 4 Hal Yang Buat Pasar Saham Harap-Harap Cemas Minggu Depan

Baca juga: Jangan Lupa Promo Bulan Agustus, Diskon Sampai 74 Persen!

Tinggalkan Balasan

merekrut karyawan

Merekrut Karyawan Rumah Makan? Wajib Penuhi 4 Kriteria Berikut!

Virtual Hotel Operator

Virtual Hotel Operator, Pengertian dan Cara Kerja