in

Calo Tiket, Bisnis Musiman Saat Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya

Calo Tiket, Bisnis Musiman Saat Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya
Calo Tiket, Bisnis Musiman Saat Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya

Di tengah hiruk-pikuk jelang pertandingan sepak bola berlabel big match, seperti laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di kompetisi resmi ataupun turnamen selalu saja ada pihak yang memanfaatkan. Salah satunya mereka yang menjalankan bisnis musiman dengan menjadi calo tiket.

Calo tiket merupakan orang-orang yang menjual tiket secara ilegal di luar ticket box resmi yang ditunjuk oleh pihak klub tuan rumah. Pekerjaan sebagai calo tiket ini bisa dibilang musiman, karena tidak setiap hari dijalani. Bahkan, di antara mereka tidak ‘bekerja’ pada setiap klub Arema menjalani laga kandang. Ada yang cuma memilih laga-laga dengan label big match saja, seperti laga melawan Persebaya yang dianggap sebagai rival berat Arema.

Laga Arema yang berlabel big match biasanya berpotensi mendatangkan atmosfer suporter yang tinggi ke stadion tempat tim berlaga. Jika biasanya Aremania, suporter klub Arema yang datang ke stadion cuma kisaran 5000 hingga 10000 orang, di laga big match biasanya mencapai 20 ribu atau 30 ribu ke atas. Dengan demikian, permintaan tiket dari suporter dipastikan bertambah ketika Arema menjalani laga big match. Potensi inilah yang dilirik oleh para calo tiket.

Di satu sisi, keberadaan calo tiket dinilai merugikan klub, lantaran klub tidak ikut menikmati keuntungan lebih. Namun di sisi lain, mereka dibutuhkan oleh para suporter yang tak kebagian tiket dari ticket box atau loket di stadion.

Baca Juga  Mengetahui Saham Preferen dan Cara Menghitungnya

Bagaimana Mereka Mendapatkan Tiket?

Pihak klub Arema biasanya membatasi pembelian tiket di ticket box di setiap laga big match. Namun, itu bukanlah kendala berarti bagi para calo tiket yang mencoba mengais rezeki dari membeludaknya jumlah permintaan tiket masuk stadion.

Sudah diberlakukan aturan ketat sebenarnya oleh pihak manajemen klub Arema khusus di laga big match. Setiap Aremania yang ingin mendapatkan tiket biasanya dibatasi maksimal hanya boleh membeli dua lembar tiket saja. Saat membelinya pun mereka harus menunjukkan KTP atau identitas lainnya. Satu KTP atau identitas yang sudah dipakai untuk membeli tiket tidak bisa dipakai kembali oleh orang lain.

Manajemen Arema juga baru melepas tiket asli di hari H pertandingan, pada pagi hari. Sementara, ketika membeli tiket di ticket box, Aremania hanya mendapatkan kwitansi sebagai tanda bukti yang bisa ditukarkan dengan tiket asli di hari H pertandingan. Langkah ini sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah praktik calo.

Namun, para calo tiket pun tak kekurangan akal. Mereka menjalankan beberapa cara untuk mendapatkan tiket yang bisa dijual kembali di hari H. Ada yang sengaja mengumpulkan beberapa KTP dan identitas diri milik teman atau saudaranya, agar bisa membeli tiket dalam jumlah banyak. Bisa jadi, ada yang sengaja menembusi ‘orang dalam’ di klub demi mendapatkan tiket dalam jumlah tertentu. Ada pula yang mencari tiket sisa kepada pihak korwil (koordinator wilayah) Aremania.

Baca Juga  4 Tipe Konsumen Online Shop, Apa Saja?

Bagaimana Mereka Mendapatkan Keuntungan?

Diakui atau tidak, harga tiket yang dijual oleh calo tiket lebih mahal ketimbang harga aslinya di loket atau ticket box. Sebab, sama halnya prinsip orang berdagang, calo tiket tentu mengambil keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.

Memang, ada calo tiket yang berprinsip sekadar untung, berapa pun tak masalah. Calo yang masih punya hati seperti ini bisa dihitung dengan jari. Biasanya mereka yang seperti ini khusus menjual tiket kepada teman-teman suporter yang sudah dikenalnya saja.

Sayangnya, Aremania memiliki loyalitas tinggi yang memungkinkan mereka membeli berapa pun harga tiketnya asal bisa hadir di tribun, terutama di laga big match. Loyalitas suporter ini yang coba dimanfaatkan oleh calo tiket untuk mengambil keuntungan sebesar mungkin. Tak heran, ketika para calo menjual tiket dengan harga dua sampai tiga kali lipat pun mereka beli juga.

Bagaimana Mereka Beraksi?

Calo tiket bisa digolongkan menjadi beberapa tipe. Ada yang terang-terangan menawarkan tiket yang dibawanya, ada pula yang sembunyi-sembunyi.

Baca Juga  Trik Suporter Pelajar Beli Tiket Pertandingan Sepak Bola

Pada hari H Arema melakoni laga kandang, apalagi berlabel big match, mulai pagi hari para calo sudah berkeliaran di sudut-sudut kota. Mereka bisa dijumpai di kawasan Stadion Gajayana Kota Malang, meski sebenarnya Arema bermain di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Para calo itu juga bisa dijumpai di halaman beberapa kampus, perempatan atau pertigaan jalan, dan lain-lain. Biasanya, tigas jam jelang kick-off pertandingan, mereka terkonsentrasi di sepanjang jalan menuju stadion dan halaman venue pertandingan.

Mereka yang berada di sudut-sudut jalan biasanya berdiri di tepi jalan sambil mengacungkan tangan yang penuh dengan segepok tiket pertandingan Arema. Mulut mereka berteriak, “Tiket, tiket, harga sama dengan loket!” Jangan percaya begitu saja, karena memang faktanya demikian, karena aneh jika mereka menjual dengan tanpa mendapatkan keuntungan. Dalam melancarkan aksinya, tak jarang mereka membumbui kebohongan. “Ayo, terakhir, terakhir, di loket sudah habis!”

Nah, itulah sedikit cerita mengenai bisnis musiman menjadi calo tiket laga kandang Arema yang menggiurkan. Nantikan sambungan kisahnya di artikel selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Cara Bangkit dari kerugian trading

Waspada! Penipuan Pialang GCG Asia Merugikan Masyarakat

aplikasi investasi stockpile

Aplikasi Trading Forex dan Aplikasi yang Patut Anda Coba