in

Trik Jitu Investasi Melawan Resesi Ekonomi Part 1

Kondisi ekonomi yang melemah dan terpuruk bisa saja terjadi kapan pun itu. Sistem ekonomi memiliki suatu siklus tersendiri yang bisa membuat perekonomian menguat ataupun melemah secara berulang pada rentang waktu tertentu. Seperti pada artikel sebelumnya, kita sudah membahasa mengenai pertanda yang menunjukkan bahwa resesi ekonomi akan kembali terjadi pada tahun 2020. Dikutip dari BigAlpha.id, agar bisa memnghadapai resesi ekonomi, berikut trik jitu investasi yang bisa dilakukan.

Baca juga: 3 Saham yang Berpengaruh Dengan Perpindahan Ibu Kota

IHSG yang Anjlok

Saat kondisi ekonomi sedang terpuruk, maka kinerja pasar modal pun juga cukup sensitif. Sebagai informasi, nilai IHSG turun cukup dalam ketika krisis pada tahun 1998 dan tahun 2008. Tidak sedikit investor yang memutuskan untuk tidak lagi berinvestasi di pasar modal karena trauma akan kerugian yang dialami pada krisis tahun 2008.

Ketika IHSG sedang anjlok, investor tidak perlu risau secara berlebihan. Meskipun hal ini tidak bisa dihindari, tapi tetap bisa dihadapi. Meraih keberhasilan dalam investasi ketika resesi ekonomi sangat mungkin dilakukan dengan menggunakan trik berikut:

Baca Juga  Wall Street Ditutup Beragam, Dinilai Kurang Memuaskan

Sesuaikan Profil Risiko

Setiap investor pasti memiliki preferensi risikonya masing-masing. Ada beberapa yang lebih puas dan ingin mendapatkan return yang lebih besar dengan menggunakan instrumen investasi yang beresiko. Sementara, sisanya ingin bermain aman dengan tidak mendekati instrumen investasi yang memunyai risiko tinggi.

Kedua hal tersebut tidak ada yang benar dan salah. Sah-sah saja untuk dilakukan, karena karakter setiap ,manusia juga beda-beda. Untuk itu, penting sekali untuk mengetahui profil risik sebelum memulai berinvestasi. Agar nantinya ketika pertanda krisis ekonomi datang, profil risiko yang dimiliki bisa disesuaikan.

Sebagai contoh, jika saat kondisi ekonomi stabil, seorang investor meletakkan 60% dana investasi ke deposito perbankan. Dan 10% ditempatkan untuk obligasi. Sisanya 30% dialokasikan untuk investasi saham.

Baca juga: 10 Kementerian dengan Anggaran Terbesar Tahun 2020 Part 2

Maka, ketika kondisi ekonomi mulai terpuruk. Jumlah alokasi harus disesuaikan lagi dengan cara mengurangi persenan untuk investasi saham menjadi 20%. Lalu, dialihkan ke instrumen investasi yang minim risiko.

Baca Juga  7 Cara Menghadapi Rentenir Penagih Hutang

Pemindahan tersebut bertujuan untuk menghindari potensi kerugian. Pasalnya pasar sangat sulit dikontrol dan diprediksi ketika krisis ekonomi menerjang.

Tapi, perlu diketahui bahwa sebagai investor yang cerdik bukan berarti mencabut semua investasi sahmnya. Kenapa? Karena investor yang cerdas justru bisa melihat dan peka akan potensi investasi yang tidak disadari oleh banyak orang.

Tinggalkan Balasan

resiko berinvestasi rumah kontrakan

Awas! Ini Resiko Berinvestasi Rumah Kontrakan

Tips mengelola keuangan pribadi

Musim Diskon? Atur Keuanganmu!