in ,

Risiko Obligasi Pemerintah yang Mungkin Terjadi

Risiko obligasi pemerintah
picture by stevepb on pixabay

Risiko obligasi pemerintah bisa saja terjadi kepada investor yang melakukan investasi obligasi pemerintah. Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintahan atau perusahaan dengan jangka waktu yang sudah ditentukan. Investor akan meminjamkan uang mereka kepada debitur (perusahaan atau pemerintahan) dengan jumlah dan jatuh tempo sesuai kesepakatan.

Obligasi pemerintah juga sering disebut sebagai obligasi bebas risiko, karena pemerintah bisa menaikkan pajak atau mencetak uang untuk melunasi utang.

Akan tetapi, bebas risko yang sebenarnya adalah aman dari risiko kredit. Investor masih bisa mendapatkan risiko yang lain. Sebagai contoh nilai tukar bagi investor asing di mana nilai US dollar ini melemah terhadap mata uang negara lain. Adapula risiko inflasi yang didapat investor disaat adanya pelemahan daya beli. Secara umum ada 4 risiko dalam investasi obligasi pemerintahan yang mungkin terjadi kepada investor.

Risiko Obligasi Pemerintah

  1. Risiko Likuiditas. Risiko ini muncul ketika obligasi sulit diperjualbelikan di pasar sekunder. Kemungkinan obligasi untuk likuid bisa tinggi jika permintaannya di pasar tinggi. Faktor yang mempengaruhi likuiditas adalah masa jatuh tempo, karakteristik penerbit, dan kupon bunga. Risiko ini bisa terjadi di semua jenis obligasi. Akan tetapi obligasi pemerintah cenderung lebih likuid karena adanya pihak yang berperan sebagai market maker.
  2. Risiko Suku Bunga. Harga obligasi berbanding terbalik terhadap suku bunga. Jika suku bunga acuan turun, maka harga obligasi lebih mudah untuk naik. Pun sebaliknya, jika suku bunga acuan naik, maka harga obligasi bisa lebih mudah untuk turun. Oleh karena itu, investor harus pintar untuk memprediksi pergerakan suku bunga agar investasi bisa optimal.
  3. Risiko Maturitas. Risiko ini tergantung akan masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama jatuh tempo, semakin tinggi risikonya. Namun adapula tindakan antisipasi untuk menarik investor. Tindakan tersebut adalah semakin tingginya kupon bunga untuk obligasi dengan jangka waktu yang panjang.
  4. Risiko Gagal Bayar atau default. Risiko ini lebih sering terjadi di obligasi korporasi atau perusahaan. Untuk obligasi pemerintahan, kemungkinan ini terjadi cukup kecil. Investor harus memahami kekuatan dan karakteristik finansial dari penerbit obligasi. Jika obligasi tersebut memiliki kupon bunga yang tinggi, risiko yang ditanggung biasanya lebih  besar.
Baca Juga  Ketika Pasar Saham Bergejolak
Tipe Kupon Obligasi

Tipe Kupon Obligasi, Apalagi Itu?

Investasi yang Cocok Untuk Karyawan

5 Investasi Yang Cocok Untuk Karyawan