in

Tips agar Profit Trading Saham Cepat Melesat (Part 2)

Anda masih minat untuk menjadi seorang trader?

Kalau pada artikel sebelumnya kita fokus pada Index mover atau saham-saham penggerak indeks adalah saham-saham berkapitalisasi besar, maka untuk artikel lanjutan kali ini adalah berbalik dari cara yang kemarin.

Cara yang ke dua ini, justru mengajarkan agar kiga tidak mengikuti pergerakan saham – saham penggerak indeks atau yang disebut indeks mover pada artikel sebelumnya.

Lhoo, kok malah berbeda arah dengan cara yang pertama?
Jangan panik dulu,, pantengin penjelasannya yuuk..

Jadi, jangan ikuti saham-saham big caps atau saham penggerak indeks jika trend saham big caps sedang dalam masa konsolidasi ataupun trend turun.

Tips ini berlaku untuk trader. Buat investor, yang diperhatikan adalah prospek jangka panjangnya, bukan fluktuasinya.

Lalu, kenapa kok tidak boleh ikuti saham big caps jika trend nya melambat?

Karena ketika IHSG  (Indeks Harga Saham Gabungan) sedang naik, maka sebenarnya tidak semua saham naik, dan demikian pula sebaliknya, ketika IHSG sedang turun maka tidak semua saham turun,

Baca Juga  Tips Mengoptimalkan Keuangan Untuk Acara Pernikahan (Part 1)

Bahkan ketika IHSG turun, seringkali ada saham-saham berkapitalisasi menengah sampai berkapitalisasi kecil menari dengan lincahnya di daftar running trade. Saham-saham seperti inilah yang seringkali disebut dengan saham lapis dua dan saham lapis tiga.

Saham lapis dua dan lapis tiga pada umumnya merupakan perusahaan-perusahaan berkembang, yang masih terus bertumbuh dan berekspansi. Perusahaan seperti ini belum terlalu mature, jadi kadang-kadang masih labil.

Saham lapis dua dan saham lapis tiga, semakin kecil kapitalisasinya artinya biasanya jumlah saham yang beredar semakin sedikit dan nominalnya juga makin kecil. Akibatnya, saham seperti ini mudah sekali untuk digerakkan oleh market maker.

Apa untungnya trading saham “bukan big caps” ini ? Apa risikonya ?

Untungnya banyak. Tidak tanggung-tanggung, ketika IHSG turun bahkan hingga mencapai 1.3 % misalnya, ada saja saham yang masih melejit, misalnya saham BBTN naik 4.5 %, dan saham BEST naik 8.9%.

Untuk trading saham seperti ini lebih banyak dipilih, selain karena geraknya yang cepat, juga nominal yang cenderung kecil membuat prosentase profit lebih cepat melaju.

Baca Juga  3 Strategi Trading Forex yang Harus Anda Terapkan

Maksudnya ? Jika saham A harganya Rp 500, naik Rp 50 itu artinya naik 10 % ! Tapi jika saham B harganya Rp 5000, naik Rp 50 itu artinya baru untung 1 %.

Sebaliknya….. ketika saham A seharga Rp 500 turun Rp 50, artinya rugi 10%, tapi jika saham B seharga Rp 5000 turun Rp 50, itu artinya rugi baru 1 %.

Jadi, apa pelajarannya ? Pelajarannya … sederhana.

Trading saham small caps itu higher rewards … and higher risk.

Kalau IHSG turun, tidak usah panik, kecuali Anda punya saham-saham yang menjadi movers penurunan indeks, harus siapkan pembatasan risiko.

Tinggalkan Balasan

Cara Youtuber  Mendapatkan Pengahasilan

7 Langkah Mempersiapkan Dana Pensiun