in ,

Jendela, Wadah Aduan Konsumen Fintech Asli Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, dunia keuangan diresahkam oleh konsumen finansial Technology (Fintech). Banyak para korban mengaku mendapatkan ancaman hingga pemerasan dengan bunga yang sangat tinggi.

Diungkapkan oleh Pengacara LBH Jakarta Nelson Nikodemus Simamora banyak penyelenggara P2P lending ilegal yang melakukan pelanggaran. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah cara penagihan.

Belajar dari perkara seperti itu, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) meluncurkan wadah penyedia informasi dan pengaduan konsumen bernama ‘Jendela’.

Dilansir dari investasi.online, Wakil Ketua Umum AFPI, Sunu Widyatmoko, mengatakan bahwa hal yang penting dalam kode etik pelaku P2P ialah cara penagihan kepada konsumen.

“Misalkan saya (konsumen) punya tagihan pada hari ini, ditagih lalu dia (penagih) kurang ajar. Dimaki tidak sopan, laporkan. Kalau enggak punya rekaman, kita cek,” ucap Sunu.

Lebih lanjut, Sunu menjelaskan, Jendela yang melingkupi setidaknya 99 anggota fintech terdaftar di OJK itu, terintegrasi dengan sistem data masing-masing fintech. Dengan begitu, konsumen akan merasa dimudahkan dan diamankan.

Selaim penagihan, kode etik AFPI juga bakal mengatur soal bunga pinjaman, yaitu maksimal 0,8 persen per hari, batas bunga hingga 90 hari, serta perlindungan data konsumen.

Baca Juga  Bagaimana Cara Memulai Perdagangan Saham

Lalu, bagaimana cara mengadukan fintech nakal melalui Jendela?

Konsumen yang merasa dirugikan bisa menghubungi call center Jendela. Melalui nomor telepon 150505 pada hari kerja Senin-Jumat dan jam kerja 08.00-17.00 WIB. Atau melalui email pengaduan@afpi.or.id atau melalui website www.afpi.or.id.

Namun sebelumnya korban harus mempersiapkan barang bukti yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Seperti rekaman telfon maupun screenshot chat.

Setelah pengaduan disampaikan, akan ditinjau selama paling lambat 3 hari. Dalam waktu tersebut, AFPI akan melakukan konfirmasi dan tindakan sesuai dengan tingkatan pelanggaran kode etik fintech P2P terkait. Jika sudah gawat, maka laporan akan dibawa ke Komite Etik AFPI.

Ditambahkan oleh Ketua Umum AFPI, Adrian Gunadi,
Imbas dari pelanggaran kode etik itu tidak main-main. Mulai dari teguran hingga pencabutan keanggotaan AFPI. Dengan kata lain, saat fintech tak tergabung lagi di asosiasi, maka status terdaftarnya di OJK pun bisa jadi dicoret.

Tinggalkan Balasan

Manfaat Bekerjasama dengan Broker Forex

Trader, Perhatikan 5 Poin ini untuk Mendapatkan Broker yang Aman

FXTM Sebagai Merek Global