in ,

5 Kesalahan Investasi Reksadana yang Harus Dihindari

(Foto: Pexels)

Investasi tak selalu berujung mulus. Jika masih pemula, terkadang beberapa orang pun melakukan beberapa kesalahan yang bisa memengaruhi hasil akhir. Maka dari itu Anda harus terus belajar dan mendalami, agar investasi mencapai hasil yang diinginkan.

Khususnya investasi reksadana, ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan. Jika Anda baru mau memulai investasi reksadana, sudah sepatutnya untuk mengetahui apa saja kesalahan yang bisa terjadi. Mari simak 5 kesalahan investasi reksadana yang harus dihindari berikut ini:

1. Trading reksadana

Bagi Anda yang belum tahu, trading reksadana adalah transaksi jual beli reksadana dalam jangka pendek untuk mencari keuntungan dari selisih kenaikan harga. Hal ini bisa menjadi sebuah kesalahan, karena tujuan dari investasi reksadana adalah untuk jangka waktu menengah atau panjang.

Cara kerja dari trading reksadana sendiri bisa sangat kontras dengan investasi reksadana. Karena trading membutuhkan fokus Anda setiap harinya untuk memantau fluktuasi harga.

Harga saham dalam jangka waktu panjang akan lebih mudah ditebak, sedangkan fluktuasi harga dalam jangka pendek cenderung lebih susah diprediksi.

Baca Juga  Deretan Saham LQ45 yang Bisa Dipertimbangkan

2. Membeli reksadana melalui unit link

Tergoda untuk berinvestasi reksadana melalui asuransi unit link? Bisa dibilang ini bisa menjadi salah satu kesalahan. Karena investasi melalui asuransi unit link memang sedang gencar di pasarkan ke masyarakat.

Tapi dalam hal reksadana, harga jual yang dihadirkan akan lebih mahal. Jika membeli investasi reksadana melalui unit link, Anda akan dikenakan biaya 5% dari nilai top-up atau investasi.

Biaya tersebut pun bukan untuk pengelola reksadana melainkan untuk pihak asuransi sebagai perantara.

Jika ingin lebih membeli dengan harga yang lebih murah, Anda bisa membelinya langsung kepada para manajer investasi yang menyediakan atau platform reksadana, seperti Bareksa.

3. Tidak memahami risiko investasi

Dalam melakukan hal apapun, tak hanya tujuan, Anda juga harus mengetahui risiko yang bisa terjadi. Apalagi saat melakukan investasi. Risiko-risiko itu kerap terjadi, dan hasil pun bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Seperti ketika melakukan investasi dan melihat aset turun, banyak pemula yang langsung panik dan gegabah, lalu memindahkannya ke instrumen lain. Padahal jika bertahan pada instrumen yang sama, pasar akan melakukan recovery dan Anda pun tetap bisa meraup untung.

Baca Juga  Tips Sukses ala Pendiri Tokopedia

Baca juga: TIPS MEMILIH MANAJER INVESTASI SAAT INVESTASI REKSADANA

4. Tidak membaca prospektus secara mendalam

Prospektus adalah manual book yang menjelaskan reksadana tersebut secara mendalam. Dari hal-hal dasar seperti pengertian reksadana pun bisa Anda temukan pada dokumen ini.

Selain itu Anda juga bisa menemukan penjelasan mengenai legalitas, risiko, pengelola dan masih banyak lagi. Jadi, jangan lupa untuk membaca prospektus secara detail ya.

5. Jangan hanya memilih satu jenis investasi

Satu prinsip yang harus diingat saat berinvestasi adalah jangan menaruh dana investasi pada satu jenis instrumen saja. Ibaratnya Anda akan mempertaruhkan dana yang dimiliki, jika sesuatu hal terjadi pada instrumen tersebut pun, risiko kerugian akan lebih tinggi.

Pada reksadana pun begitu. Jangan menempatkan dana untuk dikelola pada satu instrumen investasi. Jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi, setidaknya Anda masih memiliki cadangan.

Tinggalkan Balasan

Fakta dibalik mitos investasi saham

5 Tips Penting untuk Mahasiswa yang Mau Memulai Investasi

Tips Weekend Murah untuk Kaum Single