in

Belajar Bisnis Waralaba (Part 1)

kerugian bisnis franchise

Pernahkah anda mempelajari tentang waralaba? Jika belum, selamat! anda berada pada tempat yang tepat. dan bagi anda yang sudah pernah mempelajari, mungkin ini saat yang baik untuk  kembali mengingat apa itu bisnis waralaba.

Waralaba atau yang sering disebut Franchise merupakan suatu sistem penjualan atau pendistribusian barang yang akhir-akhir ini cukup marak di Indonesia. Terutama di kota-kota besar, kita bisa dengan menemukan usaha yang menggunakan sistem waralaba. Nah yang jadi pembahasan kita kali ini adalah sebenarnya apa itu waralaba? Berikut penjelasan lengkapnya:

Pengertian Waralaba

Dari SimulasiKredit Waralaba merupakan suatu perjanjian yang mengikat dua belah pihak, dimana satu pihak dalam perjanjian mendapatkan hak untuk memanfaatkan kekayaan intelektual, termasuk menjual barang dan jasa dengan memberi imbalan kepada pihak lainya berdasarkan perjanjian tertentu.

Kata waralaba sendiri diambil dari dua kata, yaitu wara dan laba. Kata wara memiliki arti lebih, sedangkan kata laba memiliki arti keuntungan.

Dalam waralaba, ada dua pihak yang terlibat yaitu pemberi waralaba (franchisor) dan juga penerima waralaba (franchisee). Pemberi waralaba yaitu pihak yang memberikan hak kepada orang lain untuk bisa memanfaatkan kekayaan intelektualnya, atau menjual dan menggunakan produk dan ciri khas usaha yang dimiliki. Sedangkan penerima waralaba yaitu badan usaha atau perorangan yang berhak menggunakan kekayaan intelektual yang diberikan oleh pemberi waralaba.

Baca Juga  Peluang Bisnis Menguntungkan di Bulan Kemerdekaan

Saat akan mengembangkan usaha waralaba, penerima waralaba akan dibebani oleh dua jenis biaya, yaitu ongkos awal dan ongkos royalti. Ongkos awal merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membayarkan pembuatan tempat usaha dan pembelian modal bahan baku sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

Lalu ongkos royalti yaitu biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba ke pemberi waralaba, biasanya diambil dari penghasilan kotor usaha dan dibayarkan setiap bulannya. Umumnya, ongkos royalti sebesar 5 hingga 15 persen dari penghasilan kotor penerima waralaba.

Dalam proses kerjasama antara pemberi dan penerima waralaba, pemberi waralaba dapat memberikan arahan dan bimbingan yang diperlukan kepada penerima waralaba. Arahan ini bisa berupa teknis usaha, cara membuat produk, bentuk pemasaran, dan cara menggunakan desain yang telah ditentukan.

Penerima waralaba juga selain harus membayarkan ongkos royalti, ia juga harus mematuhi dan menghormati konsep, spesifikasi, atau peraturan yang telah ditetapkan oleh pemberi waralaba.

Baca Juga: Ingin memulai bisnis properti tanpa modal? Begini caranya.

 

Tinggalkan Balasan

Tagihan Kartu Kredit Tidak Sesuai? Lakukan 5 Hal Ini!

Gig Economy Mempengaruhi Kinerja Milenial, Benarkah?